Bill Gates Ingatkan Hewan Paling Mematikan di Dunia Masih Berkeliaran

Bill Gates Ingatkan Hewan Paling Mematikan di Dunia Masih Berkeliaran

Adi Fida Rahman - detikInet
Selasa, 18 Agu 2020 06:54 WIB
PARIS, FRANCE - JUNE 27:  Bill Gates, the co-Founder of the Microsoft company and and co-Founder of the Bill and Melinda Gates Foundation, delivers a speech during a press conference at the Solidays festival, on June 27, 2014 in Paris, France. Bill Gates visited the 16th edition of the Solidays music festival, dedicated to the fight against AIDS.  (Photo by Thierry Chesnot/Getty Images)
Bill Gates ingatkan kalau hewan mematikan di dunia masih berkeliaran. Foto: Getty Images/Thierry Chesnot
Jakarta -

Semua orang di seluruh dunia tengah memfokuskan perhatiannya pada COVID-19. Hanya saja Bill Gates mengingatkan kalau hewan paling mematikan di dunia masih berkeliaran di tengah pandemi ini.

Hewan tersebut keluar mengigit setiap malam, menginfeksi jutaan orang dan penyakit yang ditimbulkan telah membunuh seorang anak setiap menit setiap hari. Hewan yang dimaksud adalah nyamuk malaria.

"Nyamuk tidak mempraktikkan jarak sosial. Mereka juga tidak memakai topeng. Saat COVID-19 menyebar ke seluruh dunia, penting untuk diingat bahwa hewan paling mematikan di dunia belum berhenti selama pandemi ini," kata Gates.

Sebagian besar kematian akibat nyamuk malaria terjadi di negara-negara termiskin dengan sistem kesehatan terlemah. Saat ini mereka menghadapi beban tambahan untuk menghentikan virus Corona. Dan di banyak negara ini, kasus COVID-19 cenderung mencapai puncaknya pada waktu yang paling buruk yakni puncak musim penularan malaria.

"Selama wabah Ebola 2014 di Afrika Barat, penyakit endemik seperti malaria, tuberkulosis dan HIV / AIDS menyebabkan lebih banyak kematian daripada Ebola karena epidemi tersebut mengganggu sistem perawatan kesehatan setempat. Pejabat kesehatan khawatir hal yang sama bisa terjadi dengan COVID-19," terang Gates.

Penerapan lockdown dan social distancing efektif mencegah meluasnya wabah Corona, namun di lain sisi telah mempersulit petugas kesehatan untuk memberikan pencegahan dan pengobatan malaria di banyak bagian Afrika. Imbas lainnya gangguan terhadap pasokan alat-alat penting malaria, seperti kelambu, obat anti-malaria, dan tes diagnostik cepat yang telah berperan dalam mengurangi kematian akibat malaria hingga lebih dari setengahnya sejak tahun 2000.

"Analisis pemodelan baru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan bahwa jika layanan pencegahan dan pengobatan malaria sangat terganggu oleh pandemi, kematian akibat malaria di sub-Sahara Afrika akan mencapai tingkat kematian yang tidak terlihat sejak tahun 2000.Pada tahun itu, diperkirakan 764.000 orang meninggal karena penyakit malaria di Afrika, kebanyakan anak-anak," terang pendiri Microsoft ini.

Menurut Gates tidak ada pilihan antara menyelamatkan nyawa dari COVID-19 versus malaria. Dunia harus memungkinkan negara-negara ini melakukan keduanya. Pejabat kesehatan sangat perlu untuk mengatasi tantangan dalam mengendalikan pandemi sambil juga memastikan bahwa malaria, serta penyakit lain seperti HIV dan tuberkulosis, tidak terabaikan.



Simak Video "Ayah Bill Gates Meninggal Dunia"
[Gambas:Video 20detik]