Ribut Lebaran Sabtu atau Minggu, Ini Penjelasan LAPAN soal Kalender Islam

Ribut Lebaran Sabtu atau Minggu, Ini Penjelasan LAPAN soal Kalender Islam

Aisyah Kamaliah - detikInet
Jumat, 22 Mei 2020 16:44 WIB
muslim asian people forgiving on eid mubarak tradition. apologizing each other isolated over white
Foto: iStock
Jakarta -

Ribut-ribut soal kapan Lebaran atau Idul Fitri ramai digaungkan. Netizen menanyakan apakah Lebaran jatuh pada hari Sabtu atau Minggu.

"Lebaran tuh kapan si? Hari apa?" tulis salah seorang netizen di Twitter.

Jika kamu browsing di Google, jawabannya adalah jauh pada Sabtu malam (23/5) sampai Minggu malam (24/5). Tapi, eits sebentar, jadi Lebaran hari Sabtu atau Minggu sih?

Ribut-ribut soal kapan Lebaran atau Idul Fitri ramai digaungkan. Netizen menanyakan apakah Lebaran jatuh pada hari Sabtu atau Minggu.Ribut-ribut soal kapan Lebaran atau Idul Fitri ramai digaungkan. Netizen menanyakan apakah Lebaran jatuh pada hari Sabtu atau Minggu. Foto: Tangkapan Layar Penelusuran Google


Pastinya sih belum tahu, karena kita masih harus menunggu hasil dari sidang isbat. Namun yuk pahami lebih lanjut soal perhitungan kalender Islam.

Nah detikers, Thomas Djamaluddin Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika sekaligus Ketua LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) menjelaskan bahwa sudah umum bulan baru dimulai saat magrib.


"Ketika ilmu hisab (perhitungan astronomi) berkembang, batasan Maghrib pun tetap dijadikan rujukan awal hari. Posisi bulan saat Maghrib menjadi rujukan dalam penentuan masuknya awal bulan Islam. Beberapa kriteria klasik menggunakan batasan Maghrib untuk menandai awal bulan. Misalnya, 'ijtimak qoblal ghurub' (konjungsi bulan-matahari sebelum maghrib) dan 'Wujudul Hilal' (hilal dianggap wujud atau sebagian piringan bulan masih di atas ufuk) saat Magrib," jelasnya dalam blog pribadi miliknya.

Kriteria visibilitas hilal atau imkan rukyat (kemungkinan ketampakan hilal) umumnya menggunakan posisi bulan saat Magrib dengan syarat ketinggian tertentu atau parameter lainnya, namun pengamatan bulan sabit di siang hari sudah memungkinkan dengan teknologi yang ada.

Kendati demikian, Thomas mengatakan 'Rukyat Qoblal Ghurub' atau pengamatan sebelum Magrib adalah alternatif tapi bukanlah sebuah solusi untuk menentukan hilal.

"Rukyat siang hari tidak bisa memastikan pergantian bulan kalender, kecuali saat terjadi gerhana matahari. Karena itu bulan sabit siang hari bukan hilal penentu awal bulan utama dan yang dianjurkan," tutupnya.

Hal senada disampaikan oleh Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh. Menurut dia penentuan awal Ramadhan dan Syawal itu selalu dengan melihat bulan, yang tentunya dimulai menjelang malam hari.

"Penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal itu didasarkan pada mekanisme hisab dn rukyat," ujarnya.



Simak Video "Kepala LAPAN: Insyaallah Idul Fitri Kali Ini Kompak 24 Mei 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/afr)