Kamis, 31 Okt 2019 07:57 WIB

Startup AI Indonesia Ini Wakili Indonesia di CEBIT Australia

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Dok. Nodeflux Foto: Dok. Nodeflux
Jakarta - Startup Vision AI Indonesia bernama Nodeflux mewakili Indonesia dalam pameran teknologi tahunan CEBIT Australia yang digelar 29-31 Oktober 2019.

Perwakilan dari startup yang didirikan pada 2016 itu menjadi salah satu pembicara resmi di konferensi yang diadakan di Sydney, Australia tersebut. Sebelumnya, mereka juga pernah mewakili Indonesia dalam acara World Summit AI 2019 di Belanda.

Nodeflux adalah startup yang bergerak di bidang Vision AI, dengan produknya yang bernama VisionAIre. Lewat produknya ini, Nodeflux menawarkan berbagai kemampuan pemindaian visual.

Contohnya adalah pengenalan wajah, menghitung jumlah orang dalam satu area tertentu, mengenali nomor plat mobil, memantau ketinggian air, sampai dengan mendeteksi demografi orang, seperti jenis kelamin dan umur berdasarkan karakteristik wajah penduduk.


Di Indonesia, perusahaan yang didirikan oleh Meidy Fitranto dan Faris Rahman ini bekerja sama dengan institusi seperti Jakarta Smart City, Polri, Jasa Marga, dan lainnya. Teknologi mereka dipakai di enam titik CCTV di Jakarta untuk mengenali plat nomor kendaraan dan menyesuaikan datanya dengan sistem perpajakan. Tujuannya untuk mencari potensi pendapatan daerah yang selama ini tak terlihat karena adanya tunggakan pajak kendaraan.

"Kami bangga bisa mewakili Indonesia sebagai pionir adopsi Vision AI di CeBIT Australia. Tentunya kami berharap bisa membagikan keahlian kami, untuk semakin memperluas adopsi Vision AI agar dapat memberikan dampak-dampak positif di berbagai belahan dunia," kata Richard Dharmadi, Group Product Manager Nodeflux dalam keterangan yang diterima detikINET.

Adopsi Vision AI memiliki implementasi yang amat luas, setidaknya di lima industri besar di Indonesia yang telah melakukan adopsi awal, yaitu: perbankan, telekomunikasi, layanan kesehatan, e-dagang, dan fast-moving consumer goods (FMCG). Menurut IDC Asia Pacific Enterprise Cognitive/AI Survey, 52% jajaran eksekutif di Asia Pasifik memilih mengadopsi AI karena kemampuannya dalam memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh dan lebih baik.


Adopsi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat ini memang menunjukkan tren yang positif di dunia industri. Berdasarkan studi berjudul IDC Asia Pacific Enterprise Cognitive/AI Survey pada Juli 2018, ditemukan bahwa tingkat adopsi AI di Asia tenggara mencapai 14%, naik sebesar 8% dari tahun sebelumnya.

Di Indonesia sendiri, sebanyak 24,6% organisasi bisnis telah mengadopsi kecanggihan AI, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat adopsi tertinggi dibandingkan negara-negara lain, seperti Thailand (17,1%) dan Singapura (9,9%).

Simak Video "Menkominfo Sebut Startup Pendidikan Sebagai Calon Kuat ''The Next Unicorn''"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)