Jumat, 24 Agu 2018 16:34 WIB

WhatsApp Tolak Permintaan India untuk Lacak Pesan

Josina - detikInet
Foto: BBC Magazine Foto: BBC Magazine
Jakarta - Menteri Teknologi dan Informasi India, Ravi Shanmar Prasad menemui CEO WhatsApp Chris Daniels untuk membahas kerusuhan yang terjadi di negaranya.

Hoax yang beredar di WhatsApp ditengarai menjadi biang kerok dari kericuhan tersebut. Dalam pertemuan ini, Prasad meminta WhatsApp untuk membuat suatu cara agar bisa menelusuri asal usul pesan palsu yang selama ini beredar di platformnya tersebut.



Sayangnya, permintaan Menteri tersebut tidak bisa dipenuhi WhatsApp. Ironisnya, penolakan ini justru didasari alasan WhatsApp berpegang teguh untuk menjaga dan melindungi privasi pengguna.

"Orang-orang mengandalkan WhatsApp untuk semua jenis percakapan sensitif, termasuk dengan dokter, bank, dan keluarga mereka. Membangun ketertelusuran akan merusak enkripsi end to end dan sifat pribadi WhatsApp, menciptakan potensi penyalahgunaan serius," juru bicara WhatsApp Carl Woog, dikutip detikINET dari The Indian Express, Jumat (24/8/2018).

WhatsApp pun menegaskan pihaknya akan tetap fokus mendidik masyarakat di India dari hoax dan membuat warga di sana tetap nyaman menggunakan layanannya.

"WhatsApp tidak akan melemahkan perlindungan privasi yang kami sediakan. Fokus kami tetap bekerja lebih dekat dengan orang lain di masyarakat untuk mendidik orang tentang informasi yang salah dan membantu membuat orang tetap aman," tambah Woog.

Layanan yang identik dengan warna hijau dan ikon telepon ini menjadi sorotan di India setelah beredarnya berita palsu dan desas-desus penyalahgunaan WhatsApp untuk kekerasan massa dan penganiayaan.

Dalam pertemuannya tersebut pemerintah India juga telah meminta WhatsApp mendirikan perusahaan yang berfungsi sebagai tempat pengaduan hoax di India.



Seperti diketahui, pengguna terbesar WhatsApp adalah di India dengan pengguna lebih dari 200 juta pengguna aktif.

Baru-baru ini, WhatsApp mengumumkan pembaruan untuk membatasi pesan terusan (forward) WhatsApp di India hanya bisa menangani lima percakapan. Di pasar global, pembatasan ini mencakup 20 percakapan. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed