Kendala Transformasi Digital: Faktor Halal dan Haram

Kendala Transformasi Digital: Faktor Halal dan Haram

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 30 Nov 2021 16:45 WIB
OVO
Kendala Transformasi Digital, Faktor Halal dan Haram Salah Satunya. Foto: OVO (M Fakhry Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Adopsi financial technology (fintech) terus berkembang di Indonesia. Akan tetapi, literasi mengenai fintech masih sangat kurang. Berdasarkan data Bank Indonesia per April 2021, nilai transaksi uang elektronik tumbuh 42,46% year on year yakni senilai Rp 21,4 triliun.

Annisa Steviani Certified Financial Planner dalam acara 'Bincang Ovo: Akselerasi Transformasi Digital Keuangan Bersama Ovo dan Pengumuman Pemenang Anugerah Literasi Ovo', Selasa (30/11/2021) menyampaikan sejumlah pendapatnya dan analisis yang telah ia pelajari.

"Hasil survei 76% terpapar inklusi keuangan tapi kok bisa hanya 38% yang terliterasi dengan baik? Ini ada gap yang jauh dan ada PR besar buat kita. Yang lebih sedih, ada survei yang menyebut 9% responden dari orang Indonesia hanya bisa bertahan 6 bulan untuk masalah dana darurat dan 46% hanya satu minggu untuk dana darurat," ucap Annisa.

Annisa pun menyebutkan sejumlah kendala transformasi digital dan literasi keuangan digital. Pertama adalah kekhawatiran keamanan digital. Meski sudah banyak kesempatan untuk melakukan transaksi secara digital termasuk investasi, masih banyak yang kuatir apakah uangnya akan aman berada di suatu aplikasi.

Selanjutnya, masih berhubungan dengan poin pertama, karena mereka khawatir dan belum merasakan kemudahan serta manfaat dari pengelolaan keuangan di era digital, ini juga yang membuat orang ragu mengambil langkah transportasi digital.

"Lalu, ada keraguan halal nggak sih investasi itu, karena di Indonesia peran agama penting sehingga kehalalan produk dianggap penting juga untuk nasabah. Tapi kini sudah banyak yang sudah menyadari peran syariah contohnya Ovo yang menyediakan reksadana syariah," ujarnya.

Di sini berarti bisa jadi catatan penting, bahwa unsur halal dan haram harus jadi pertimbangan serta terdapat kejelasannya. Dengan begitu, konsumen akan merasa tenang dan percaya untuk mengadopsi teknologi terbaru.

Terakhir dan paling penting adalah faktor budaya dan penolakan pada pemahaman baru yang terjadi. Padahal, biasanya penolakan dari orangtua tersebut datang dari ketidakpahaman atas kegagalan dalam mengetahui produk digital yang mereka gunakan, misalnya asuransi.

"Sehingga dianggapnya ada penipuan asuransi, padahal bisa jadi karena orangtua tidak mengetahui produk tersebut sejak awal. Kabar baiknya, penggunaan dompet digital khusus saat pandemi. Ewallet pun mendominasi, sudah sedikit yang transfer bank dan makin sedikit yang ke minimarket untuk bayar digital," tandasnya.



Simak Video "Dalam Usaha, Dunia Maya dan Dunia Nyata Itu Beda"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)