Rotasi bumi semakin melambat dan hari-hari di Bumi akan sedikit lebih panjang. Rotasi bumi memang terkadang makin cepat, tapi kadang pula melambat. Namun, penelitian terbaru memperkirakan adanya penambahan panjang waktu yang tidak belum pernah terjadi sekiranya dalam 3,6 juta tahun sepanjang sejarah.
Melansir IFL Science, Sabtu (14/3/2026), secara teori butuh waktu 24 jam untuk Bumi menyelesaikan rotasinya. Satu hari bisa sedikit lebih panjang atau sedikit lebih pendek, dipengaruhi oleh gaya gravitasi Bulan dan beberapa proses geofisika yang terjadi jauh di dalam interior Bumi, di permukaannya, dan di atmosfer bagian atas.
Inilah yang terjadi pada Juli dan Agustus 2025 ketika kedekatan Bulan menyebabkan hari-hari di Bumi menjadi lebih lambat sekitar 1 milidetik dari rata-rata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akan tetapi, tren yang jauh lebih besar juga sedang terjadi. Perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia menghangatkan planet ini dan mencairkan lapisan esnya, melepaskan air yang telah membeku selama ribuan tahun.
Saat air tersebut mencair dan menyebar ke seluruh dunia dalam bentuk naiknya permukaan laut, hal itu mendistribusikan kembali massa Bumi. Dengan demikian, secara bertahap Bumi memperlambat putarannya. Akibatnya, planet kita memperpanjang hari-hari hingga beberapa milidetik.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam 'Journal of Geophysical Research: Solid Earth', para ilmuwan dari University of Vienna dan ETH Zurich berupaya menentukan seberapa tidak biasa perlambatan ini dengan meneliti jutaan tahun sejarah Bumi sejak Pliosen Akhir.
"Dalam penelitian kami sebelumnya, kami menunjukkan bahwa percepatan pencairan lapisan es kutub dan gletser pegunungan pada abad ke-21 meningkatkan permukaan laut, yang memperlambat rotasi Bumi dan karenanya memperpanjang hari -- mirip dengan seorang pemain seluncur es yang berputar lebih lambat saat mereka merentangkan lengan mereka, dan lebih cepat saat mereka menjaga tangan mereka tetap dekat dengan tubuh mereka," kata Mostafa Kiani Shahvandi, penulis studi dari Departemen Meteorologi dan Geofisika University of Vienna, dalam sebuah pernyataan.
"Yang masih belum jelas adalah apakah ada periode sebelumnya ketika iklim meningkatkan panjang hari dengan kecepatan yang sama cepatnya," lanjutnya.
Tim tersebut menyimpulkan bahwa hari di Bumi saat ini memanjang sekitar 1,33 milidetik per abad, terutama karena kenaikan permukaan laut akibat pencairan es yang mendistribusikan kembali massa dan memperlambat rotasi Bumi.
Mereka menemukan bahwa hal ini terjadi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dibandingkan dengan waktu lain selama 3,6 juta tahun terakhir. Dengan pemanasan global dan pencairan lapisan es yang diperkirakan akan terjadi dalam beberapa dekade mendatang, dampaknya hanya akan semakin besar.
"Peningkatan pesat panjang hari ini menunjukkan bahwa laju perubahan iklim modern belum pernah terjadi sebelumnya setidaknya sejak akhir Pliosen, 3,6 juta tahun yang lalu. Peningkatan pesat panjang hari saat ini terutama dapat dikaitkan dengan pengaruh manusia," tambah Benedikt Soja, Profesor Geodesi Antariksa di ETH Zurich.
"Pada akhir abad ke-21, perubahan iklim diperkirakan akan memengaruhi panjang hari bahkan lebih kuat daripada Bulan. Meskipun perubahannya hanya beberapa milidetik, hal itu dapat menyebabkan masalah di banyak bidang, misalnya, dalam navigasi ruang angkasa yang presisi, yang membutuhkan informasi akurat tentang rotasi Bumi," catat Soja.
Ya, walaupun manusia tidak akan merasakan 1,33 milidetik berlalu dalam sehari selama bertahun-tahun, hal ini dapat menyebabkan beberapa kendala bagi teknologi yang bergantung pada ketepatan waktu. Sebut saja satelit GPS dan jaringan keuangan yang kompleks, di mana bahkan pergeseran terkecil dalam rotasi Bumi dapat mengacaukan sistem yang telah dikalibrasi dengan cermat.
(ask/agt)

