Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Warga Perbatasan Marak Pakai Starlink, BAKTI: Bukan Pesaing

Warga Perbatasan Marak Pakai Starlink, BAKTI: Bukan Pesaing


Fino Yurio Kristo - detikInet

Bakti Komdigi
Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar. Foto: Fyk/detikinet
Jakarta -

Kehadiran layanan internet satelit seperti Starlink di Indonesia tidak dipandang sebagai ancaman oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital.

Di Pulau Maratua, Kabupaten Berau misalnya, selain dengan layanan konektivitas yang disediakan oleh BAKTI, warga di sana juga cukup marak mengakses internet melalui Starlink dari perusahaan SpaceX.

BAKTI menilai seluruh penyedia layanan internet, termasuk Starlink, merupakan bagian dari solusi untuk memperluas konektivitas nasional. Pandangan ini sejalan dengan peran BAKTI yang berfokus menghadirkan akses internet di wilayah yang belum terlayani secara komersial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT


Direktur Utama BAKTI, Fadhilah Mathar, mengatakan pemerintah memiliki keterbatasan kapasitas dan anggaran dalam membangun infrastruktur telekomunikasi. Karena itu, keterlibatan berbagai penyedia layanan membantu mempercepat pemerataan akses internet.

"Kalau Starlink itu bukan saingan, kalau kami memandang semua penyedia mau Starlink atau yang lain adalah solusi untuk membantu kapasitas BAKTI atau pemerintah yang memang tidak banyak kan sebenarnya kapasitasnya," ujar Fadhilah dalam kunjungan ke Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jumat, (12/6).

Menurut Fadhilah, BAKTI memiliki mandat yang berbeda dengan penyedia layanan telekomunikasi komersial. Lembaga tersebut tidak membangun jaringan untuk kawasan perumahan atau pelanggan rumah tangga, melainkan berfokus pada layanan publik di wilayah yang membutuhkan kehadiran negara.

"Makanya Bakti tidak membangun di wilayah-wilayah residensial perumahan," sebutnya. Fokus pembangunan BAKTI selama ini diarahkan ke berbagai fasilitas publik yang menjadi pusat pelayanan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Kita di lokasi-lokasi layanan publik, sekolah, puskesmas, kantor desa, pos-pos TNI, UMKM, rumah-rumah ibadah. Tapi untuk perumahan kita tidak bangun dan itu pasarnya Starlink dan kita juga sangat terbantu," cetus Fadhilah.

Bakti KomdigiBTS Bakti di Maratua. Foto: Fyk/detikinet

Ia menilai semakin banyak masyarakat yang dapat mengakses layanan internet secara mandiri melalui skema komersial, semakin efektif pula penggunaan anggaran pemerintah. Dengan demikian, subsidi negara dapat lebih difokuskan pada wilayah dan kelompok masyarakat yang benar-benar belum terjangkau layanan telekomunikasi.

"Semakin kecil subsidi yang bisa diberikan pemerintah berarti kan masyarakat semakin mandiri. Dan memang kan seharusnya lebih baik mereka memanfaatkan secara komersil dibandingkan invest yang diberikan oleh pemerintah," paparnya.

Fadhilah menjelaskan pemerintah tetap berperan memastikan layanan telekomunikasi tersedia di lokasi yang tidak menarik secara bisnis bagi operator dan penyedia layanan internet. Di sisi lain, kehadiran pemain komersial seperti Starlink dapat memperluas pilihan masyarakat dalam memperoleh akses internet.




(fyk/fyk)
TAGS






Hide Ads