Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Bulan Makin Jauh, Bumi Akan Kehilangan Gerhana Matahari Total!

Bulan Makin Jauh, Bumi Akan Kehilangan Gerhana Matahari Total!


Adi Fida Rahman - detikInet

Ilustrasi bulan kedua
Bulan Makin Jauh, Ini yang Akan Hilang dari Langit Bumi Foto: WIO News
Jakarta -

Langit malam yang selama ini tampak tenang ternyata menyimpan perubahan besar yang jarang disadari manusia. Bulan, satu-satunya satelit alami Bumi, perlahan menjauh dari planet kita setiap tahun. Fenomena ini bukan sekadar fakta astronomi, tetapi akan mengubah wajah langit dan menghilangkan salah satu peristiwa alam paling menakjubkan: Gerhana Matahari Total.

Perubahan ini terungkap lewat eksperimen ilmiah yang sudah berjalan sejak era misi Apollo. Pada akhir 1960-an, NASA menempatkan reflektor khusus di permukaan Bulan melalui program Lunar Laser Ranging Experiment. Dengan memantulkan sinar laser dari Bumi ke Bulan dan menghitung waktu pantulannya, ilmuwan bisa mengukur jarak Bulan dengan presisi luar biasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa Bulan menjauh dari Bumi sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Angka ini terlihat kecil, tetapi dalam skala jutaan tahun, dampaknya sangat besar. Penyebab utama fenomena ini adalah interaksi gravitasi antara Bumi dan Bulan, khususnya akibat pasang surut laut yang memperlambat rotasi Bumi dan mendorong Bulan menjauh.

Fenomena ini juga memengaruhi durasi hari di Bumi. Dalam jangka panjang, rotasi Bumi akan semakin melambat, sehingga satu hari akan menjadi lebih panjang dibandingkan sekarang.

ADVERTISEMENT

Saat ini, manusia masih bisa menikmati Gerhana Matahari Total karena ukuran tampak Bulan dan Matahari hampir sama jika dilihat dari Bumi. Hal ini terjadi karena Matahari berdiameter sekitar 400 kali lebih besar dari Bulan, tetapi juga berjarak sekitar 400 kali lebih jauh dari Bumi. Kombinasi inilah yang menciptakan 'kebetulan kosmik' yang sempurna.

Namun, seiring Bulan menjauh, ukuran tampaknya akan semakin mengecil. Akibatnya, Bulan tidak lagi mampu menutupi Matahari sepenuhnya. Gerhana yang tersisa di masa depan hanyalah gerhana cincin, di mana Matahari tampak seperti cincin api di langit.

Menurut pernyataan ilmuwan NASA, Richard Vondrak, sekitar 600 juta tahun lagi Gerhana Matahari Total akan terjadi untuk terakhir kalinya di Bumi. Setelah itu, umat manusia-jika masih ada-tidak akan lagi menyaksikan langit gelap total di siang hari akibat tertutupnya Matahari oleh Bulan.

Sebagai perbandingan, sekitar 4 miliar tahun lalu, Bulan berada jauh lebih dekat dengan Bumi sehingga tampak tiga kali lebih besar dibandingkan sekarang. Saat itu, gerhana Matahari berlangsung lebih lama dan lebih sering.

Perubahan jarak Bulan mengingatkan kita bahwa alam semesta tidak pernah benar-benar diam. Meski proses ini berlangsung sangat lambat, dampaknya akan mengubah fenomena langit yang selama ini dianggap abadi.

Para ilmuwan terus memantau pergerakan Bulan melalui teknologi laser modern untuk memahami lebih jauh dampaknya terhadap rotasi Bumi, pasang surut laut, dan masa depan planet kita.




(afr/fay)






Hide Ads