Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Riset NASA Ungkap Asal Air di Bumi Mungkin Bukan dari Meteor

Riset NASA Ungkap Asal Air di Bumi Mungkin Bukan dari Meteor


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi bumi, bulan, dan matahari di luar angkasa
Foto: Getty Images/photovideostock
Jakarta -

Studi terbaru NASA kembali mengguncang teori lama tentang asal-usul air di Bumi. Dengan menganalisis sampel Bulan berusia lebih dari 50 tahun yang dikumpulkan dalam misi Apollo, para ilmuwan menemukan indikasi kuat bahwa air di Bumi kemungkinan besar tidak berasal dari hantaman meteor, seperti yang selama ini banyak diyakini.

Selama puluhan tahun, teori populer menyebut air Bumi dibawa oleh meteorit kaya air yang menghantam planet muda kita miliaran tahun lalu. Masalahnya, permukaan Bumi terus berubah akibat aktivitas geologi dan cuaca sehingga jejak tabrakan kuno sulit dilacak. Situasi di Bulan berbeda. Tanpa atmosfer dan tektonik lempeng, permukaannya menyimpan arsip alami sejarah benturan Tata Surya.

Dalam studi ini, peneliti NASA meneliti regolit Bulan menggunakan analisis isotop oksigen presisi tinggi. Metode ini memungkinkan ilmuwan melacak kontribusi material dari meteorit kaya karbon yang diyakini membawa air. Hasilnya mengejutkan. Hanya sekitar satu persen material permukaan Bulan yang berasal dari jenis meteorit tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Justin Simon, ilmuwan planet di NASA Johnson Space Center dan salah satu penulis studi ini, menegaskan bahwa temuan ini membatasi peran meteorit sebagai pemasok utama air Bumi.

"Hasil studi kami menunjukkan bahwa meskipun meteorit memang membawa air, jumlahnya tidak cukup untuk menjelaskan seluruh air yang ada di Bumi," ujar Simon seperti dikutip dari The Economic Times, Senin (2/2/2026).

ADVERTISEMENT

Ketika data Bulan ini disesuaikan dengan kondisi Bumi yang mengalami jauh lebih banyak benturan, jumlah air yang dibawa meteorit tetap hanya menyumbang sebagian kecil dari total air lautan saat ini. Artinya, sebagian besar air Bumi kemungkinan sudah ada sejak planet ini terbentuk atau berasal dari proses lain pada fase awal Tata Surya.

Peneliti utama studi ini, Tony Gargano, menjelaskan bahwa Bulan berfungsi seperti kapsul waktu bagi Bumi. "Bulan memberi kita catatan benturan yang tidak bisa kita temukan lagi di Bumi. Dari sanalah kita bisa memperkirakan seberapa besar peran meteorit dalam membawa air," kata Gargano.

Temuan ini tidak sepenuhnya menyingkirkan peran meteorit, tetapi mengubah proporsinya secara drastis. Air Bumi kemungkinan besar berasal dari material pembentuk planet itu sendiri atau dari proses kimia awal yang terjadi sangat dini, jauh sebelum periode hujan meteor besar.

Lebih dari setengah abad setelah misi Apollo berakhir, sampel Bulan yang dikumpulkan para astronaut kembali membuktikan nilainya. Bukan hanya untuk memahami Bulan, tetapi juga untuk menjawab salah satu pertanyaan paling mendasar tentang Bumi, dari mana asal air yang membuat kehidupan bisa muncul.




(rns/fay)






Hide Ads