Selasa, 29 Mei 2018 05:46 WIB

Startup Ini Jadi Tempat Kursusnya Anak-anak Startup

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Arkademy, startup digital internal Telkom Foto: Arkademy, startup digital internal Telkom
Jakarta - Arkademy, startup digital internal Telkom, patut dapat apresiasi atas usahanya mengikis kesenjangan kompetensi lulusan SMA/SMK dengan industri melalui kursus teknologi informasi miliknya yang berbasis online alias daring.

Arfiyah Citra Eka Dewi, Chief Marketing Officer Arkademy, mengaku banyak dapat respons positif. Apalagi, penggangur terbanyak di Indonesia berasal dari lulusan SMA/SMK sebesar 7,01 juta atau 19,6% dari total penggangguran.

Misalnya, dari perusahaan rintisan lainnya yakni Helio.id dan Lapaktani.id, yang merekrut peserta lulusan kursus daring tersebut dan menganggap kompetensi serta kualifikasinya sesuai kebutuhan industri.



Kemudian dari mitra sekolah, seperti SMK Telkom Malang. Para guru menilai Arkademy mampu memberikan konten Internet of Things (IoT) dan bahasa pemprograman yang sesuai kebutuhan industri dengan mudah difahami sekaligus memberikan portfolio pekerjaan yang berguna bagi siswa.

"Dengan respons tersebut, selain empapt tim inti kami di BOD, kami juga sekarang punya sembilan engineer officer, empat content and product officer, serta dua marketing officer," ungkapnya via email, Selasa (29/5/2018).

Startup Ini Jadi Tempat Kursusnya Anak-anak StartupFoto: Arkademy, startup digital internal Telkom


Selain Arfiyah, tim inti lainnya adalah Alfa Putra Kurnia (Chief Executive Officer), Alden Hariyanto (Chief Technology Officer), dan Annisa Zaskia Putri (Chief Product Officer). Mereka termasuk peserta pertama program Amoeba, startup internal perusahaan, yang digagas Direktorat Human Capital Management dan Direktorat Digital Division Services.

Dia melanjutkan, dengan bea berlangganan sangat terjangkau kisaran Rp200.000 per tahun, pihaknya menawarkan konten pembelajaran, penyaluran kerja bagi lulusan SMK, training dan sertifikasi Guru, teaching factory (project dari industri), hingga Olympus (aplikasi analisa dan penilaian skill pemrograman siswa SMK).



"Kami berikan konten kursus yang dibutuhkan industri. Sebelumnya mengapa banyak lulusan SMA dan SMK menganggur, karena adanya gap kompetensi. Di sekolah diajarinya html, css, php, padahal di industri itu kemampuan dasar dan perlu yang faham react laravel, react. redux, dan react Javascript," sambungnya.

Siswa juga tidak berkesempatan mengerjakan order industri seperti biasa ditemukan di perguruan tinggi, sehingga mereka tak punya portofolio proyek yang berguna untuk kariernya kemudian.

Lebih miris lagi, sambung dia, beberapa perusahaan startup digital juga tidak tahu ada SMK jurusan rekayasa perangkat lunak (RPL), sehingga Arkademy juga berfungsi membantu memperkenalkan keahlian tersebut.

"Kami yakin dengan masa depan Arkademy. Saat ini, kami terus mempromosikan layanan kami tak hanya ke SMK, tapi juga sudah merambah ke universitas bahkan ke perorangan yang ingin belajar teknologi, khususnya pemorograman, IoT, big data, dan software defined network," pungkasnya. (rou/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed