Selasa, 26 Feb 2019 15:59 WIB

MWC 2019

Ada Virtualisasi Sebelum 5G

Ardhi Suryadhi - detikInet
Foto: Miguel Benitez/Getty Images Foto: Miguel Benitez/Getty Images
Barcelona - Dari kacamata network, teknologi 5G yang ingin dijalankan operator tak bisa disulap dalam semalam. Semuanya perlu dipersiapkan pelan-pelan sampai akhirnya matang.

Salah satu yang mesti dipersiapkan operator adalah migrasi ke teknologi virtualisasi. Hal ini penting lantaran perangkat yang digunakan operator sekarang merupakan perangkat "legacy" alias warisan dari era teknologi sebelumnya.

Sehingga ketika ingin mengadopsi teknologi baru yang lebih canggih dan kompleks maka harus ada penyesuaian yang mesti dilakukan di sana-sini.

Ivan Cahya Permana, Vice President Next Generation Technology Telkomsel, menyatakan bahwa virtualisasi network merupakan pondasi fundamental untuk 5G. Tanpa network yang virtual maka 5G tak akan bisa terjadi.




"Terlebih kalau dilihat network di industri telekomunikasi hari ini banyak masih legacy. Jadi butuh virtualisasi di tiga area: virtualisasi core, transport dan radio. Kalau di core kita menyebutnya NFI (Network Function Virtualisation) dan transport itu Software Define Network radio ada virtual RAN," kata Ivan saat ditemui detikcom di sela perhelatan Mobile Congress (MWC) 2019 Barcelona, Spanyol.

Kemudian, di atas virtual network akan banyak software yang nantinya bisa dikembangkan untuk kebutuhan dan fungsi tertentu yang mau dijalankan penyedia layanan.

Telkomsel sendiri merencanakan roadmap virtualisasi ini dalam 5 tahun ke depan. Dan dilakukan bertahap dimulai dari kota-kota besar sampai akhirnya semuanya virtual.


Video: Keren Banget Robot Humanoid yang Digerakkan Sensor 5G

[Gambas:Video 20detik]



"Jadi sebelum menjalankan 5G banyak yang harus disiapkan, kita mesti cicil dan tergantung Kominfo juga untuk spektrum yang digunakan. Jadi ini baru bibit lah, dicicil untuk membangun fundamental demi dapat menjalankan teknologi 5G," ucap Ivan menambahkan.

Sebelumnya, Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga menyebut bahwa hal yang sedikit menggembirakan terkait 5G adalah bahwa dari sisi teknis tak seluruhnya harus dimulai dari nol.




Pasalnya, di pasaran sudah ada teknologi upgrade dan konvergensi sehingga investasi yang kemarin digelontorkan oleh operator selaku penyedia layanan tidak sia-sia.

"Karena kalau start dari nol siapa yang kuat. Cisco tadi dia cerita bagaimana mengkonvergensikan bagaimana memonetise investasi yang sudah duluan," kata Alex ditemui di tempat yang sama.

Dan, saat ini pun operator - khususnya Telkomsel - tengah giat untuk brainstorming dan berkolaborasi dengan para penyedia solusi IT dan telekomunikasi terkait pembahasan 5G.

Aksi kesepakatan terbaru Telkomsel adalah dengan Huawei dan Cisco yang dilakukan di sela perhelatan MWC 2019. Sebab, network provider ataupun service provider tidak boleh mikir sendiri-sendiri untuk mencari jalan keluar dari persoalan 5G.

Agar dengan strategi "banyak kepala" ini baik dari sisi network provider (Telkomsel) dan service provider (Huawei dan Cisco) dapat lebih efisien dan cepat dibandingkan kalau persoalan ini dipikirkan sendiri-sendiri.

"Kami sebutlah itu joint inovation, joint research center yang sebetulnya riset untuk teknologi karena mereka sendiri sudah punya roadmap untuk itu, tetapi joint use case dan bisnis modelnya," tutur Alex.


(ash/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed