Jumat, 28 Sep 2018 17:31 WIB

'Tahun Sulit' Operator Seluler, Ini Antisipasinya

Agus Tri Haryanto - detikInet
BTS Seluler. Foto: Rachman Haryanto BTS Seluler. Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menyatakan para anggotanya sudah menyiapkan sejumlah jurus untuk mengantisipasi penurunan kinerja industri seluler karena faktor makro ekonomi, terutama pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sempat menembus angka Rp 15 ribu/dollar AS.

"Penurunan kinerja telco sudah diantisipasi. Kita harapkan bahwa penguatan nilai tukar dollar AS terhadap rupiah tidak menambah buruknya angka penurunan di mana hingga semester I 2018 industri ini sudah negative growth," ungkap Wakil Ketua Umum ATSI Merza Fachys di Jakarta, Jumat (28/9/2018).

Diakuinya, masa sekarang merupakan "tahun sulit" bagi industri seluler. Sebab, ada faktor makro ekonomi dan regulasi yang membuat pelaku usaha melakukan konsolidasi dalam strategi bisnis.




"Tetapi, saya percaya masing-masing operator ada jurus selamatnya dan nanti akan more than survive dari kondisi sulit ini," ucapnya.

Secara terpisah, Presiden Direktur & CEO XL Axiata Dian Siswarini mengungkapkan industri seluler hingga semester pertama 2018 mengalami negative growth, baik dari sisi pendapatan atau Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization (EBITDA).

"Secara industri, negative growth terjadi di pendapatan -12,3% dan EBITDA -24,3%," paparnya.

Diketahui, sepanjang semester pertama 2018 operator di Indonesia kinerjanya tertekan, selain faktor makro ekonomi dan regulasi juga karena adanya perubahan perilaku pelanggan yang banyak menggunakan produk substitusi messenger, sehingga menggerus pendapatan suara dan SMS.

Telkom membukukan keuntungan sebesar Rp 8,7 triliun di semester pertama 2018 (H1-2018) atau turun 28,1% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp12,1 triliun.




Operator pelat merah ini membukukan pendapatan sebesar Rp 64,37 triliun pada semester I 2018, naik tipis 0,5% dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 64,02 triliun.

Andalan Telkom di seluler, Telkomsel, sepanjang semester pertama 2018 meraih pendapatan sebesar Rp 42,7 triliun turun 7,1% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 45,99 triliun. Laba bersih sepanjang semester pertama 2018 hanya Rp 11,7 triliun anjlok 24,4% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 15,5 triliun.

Indosat Ooredoo paling tertekan di mana anak usaha Ooredoo ini di periode berakhir Juni 2018 hanya memiliki pendapatan sebesar Rp 11 triliun anjlok 26,8% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 15,11 triliun. Dampak dari buruknya kinerja operasional terasa di bottom line di mana pada periode semester I 2018 perseroan mengalami kerugian Rp 693,7 miliar berbanding terbalik dengan periode sama tahun lalu yang untung Rp 784,2 miliar.




XL Axiata masih meraih pendapatan sebesar Rp 11,06 triliun sepanjang semester I 2018 atau naik 1% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 10,95 triliun. Operator yang identik warna biru ini mencatat kerugian sebesar Rp 82 miliar di semester pertama 2018 berbanding terbalik dengan periode sama tahun lalu yang mencicipi laba Rp 143 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan hingga semester pertama 2018, Telkomsel malah menikmati laba kurs sebesar Rp 48 miliar. Sementara Indosat Ooredoo dan XL mengalami rugi kurs masing-masing Rp112 miliar dan Rp44 miliar.

Debt to Equity Ratio (DER) dari pemain pun masih "sehat" alias masih bisa mencari pendanaan dimana Telkomsel sebesar 58%, Indosat (142%), dan XL (62%).


(agt/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed