Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Jurus Tri Mendobrak Dominasi 'The Big Three'

Jurus Tri Mendobrak Dominasi 'The Big Three'


- detikInet

Rajiv Sawhney (tengah) & Bhuwan Kulshreshtha (paling kanan) (dok.tri)
Jakarta -

"Sekarang tak lagi cuma the big three, tapi sudah the big four. Saya koreksi itu," tegas Bhuwan Kulshreshtha, Chief Commercial Officer Hutchison 3 Indonesia (Tri), berkomentar soal persaingan di bisnis seluler.

Ya, beberapa tahun terakhir, industri seluler Tanah Air sering kali disebut 'cuma' dikuasai oleh operator tiga besar: Telkomsel, Indosat dan XL Axiata. Sementara operator lainnya seperti Tri, Axis, Smartfren, dan Bakrie Telecom berada di layer selanjutnya.

Nah, dengan diakuisisinya Axis oleh XL, maka peta persaingan pun berubah. XL kini berada di posisi kedua. Sementara di papan tengah persaingan menyisakan Tri dan Smartfren.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Khusus bagi Tri, mereka tak mau cuma jadi penyedia layanan GSM di kelas medioker. Ambisi untuk mendobrak dominasi The Big Three pun dikibarkan. Terlebih Tri saat ini memiliki CEO baru, Rajiv Sawhney.

Rajiv sendiri sejatinya bukan orang baru di operator dengan tagline 'Always On' itu. Di tahun 2005, Rajiv termasuk salah satu sosok sentral dalam kelahiran Tri di Indonesia. Dan kini, Rajiv telah kembali untuk memimpin Tri menapak ke level yang lebih tinggi.

"Tri saat ini sudah memiliki 40 juta pelanggan, dan kami sudah cukup puas dengan pencapaian itu," kata Rajiv, dalam bincang-bincang santai dengan segelintir media di Plaza Bapindo, Rabu (16/7/2014) malam.

Adapun strategi untuk melawan operator tiga besar, Tri masih mengandalkan jurus yang lebih agresif di layanan data dan menyasar segmen youth (anak muda).

Mereka percaya dua hal inilah yang berperan dalam pertumbuhan bisnis seluler Indonesia di masa depan.

Sementara Bhuwan Kulshreshtha, Chief Commercial Officer Tri Indonesia, yakin jika Indonesia dengan populasi lebih dari 200 juta penduduk sangat cukup bagi 5 operator seluler. Sehingga tak perlu khawatir akan kena seleksi alam alias tidak survive.

"Masing-masing operator ada pasarnya, termasuk Smartfren yang bermain di CDMA. Namun memang jika kurang dari 5 operator akan lebih bagus lagi secara bisnis," Bhuwan menandaskan.

(ash/rns)





Hide Ads