Sayangnya tidak. Program registrasi prabayar 4444 bisa dibilang tidak sukses -- kalau tak mau dibilang gagal total. Tak sampai 5% dari total sekitar 160 juta nomor telepon prabayar yang aktif, mau mengungkap data valid tentang jati diri penggunanya.
"Kelemahan dari program registrasi prabayar ini memang dari minimnya validasi data yang berhasil dikumpulkan operator," keluh Kepala Pusat Informasi Depkominfo, Gatot S Dewa Broto kepada detikINET, Rabu (22/7/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelanggan yang asal-asalan mengisi form registrasi pun dengan mudah tetap bisa menggunakan layanan telekomunikasi. Prabayar jelas beda dengan pascabayar. Pelanggan pasca sudah terlebih dulu terdaftar keterangan jati dirinya di operator, tidak dengan prabayar.
"Mungkin rendahnya kesadaran untuk validasi karena banyak yang khawatir data pribadinya disalahgunakan. Padahal seharusnya tak perlu khawatir, karena kerahasiaan data dilindungi undang-undang. Hanya Jaksa Agung, Kapolri, dan menteri terkait telekomunikasi yang boleh membuka data rahasia pelanggan. Itu pun untuk kasus yang urgensinya tinggi," jelas Gatot.
Mungkin terlalu naif jika mengklaim bisa 100% mencegah insiden pengeboman ini terjadi jika registrasi prabayar sukses. Namun setidaknya, pelaku bisa dengan mudah teridentifikasi untuk ditangkap dan ditelusuri keberadaannya. Sayangnya tidak. Dan penyesalan selalu datang belakangan.
(rou/ash)