Meski sudah lama mengadopsi desain multi-core, prosesor (CPU) modern saat ini masih kalah efisien dibandingkan chip grafis (GPU) dalam menangani beban kerja komputasi paralel yang masif. Namun, menurut bos Arm, konstelasi ini diyakini akan segera berubah drastis dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam laporan pendapatan kuartal keempat tahun fiskal 2026 baru-baru ini, CEO Arm, Rene Haas, membagikan pandangannya mengenai tren perangkat komputasi di masa depan. Ia memprediksi bahwa CPU pada akhirnya akan melampaui GPU dalam hal total jumlah core (inti pemrosesan). Pendorong utama di balik pergeseran besar ini adalah Agentic AI yang tengah berkembang pesat.
Tuntutan Komputasi Agentic AI
Agen AI (AI agents) saat ini digadang-gadang sebagai langkah besar berikutnya dalam evolusi aplikasi kecerdasan buatan. Model canggih ini diyakini akan segera mampu mengotomatisasi hampir segala jenis pekerjaan. Meskipun riset terbaru dari Microsoft menunjukkan bahwa agen AI masih kesulitan menangani tugas kompleks berdurasi panjang, para eksekutif teknologi tetap optimistis menyambut era baru ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk bisa beroperasi secara maksimal lintas beban kerja, agen-agen AI ini akan menuntut sumber daya komputasi yang luar biasa besar. Industri semikonduktor dituntut untuk beradaptasi, dan sebagai hasilnya, jumlah core pada CPU diyakini akan terus melonjak.
Haas memperkirakan arsitektur CPU server masa depan bisa menampung hingga empat kali lipat lebih banyak core dibandingkan desain yang ada saat ini. Tren ini bahkan diprediksi bisa membuka peluang bisnis baru senilai lebih dari USD 100 miliar pada 2030.
Mentoknya Batas Fisik GPU
Mengapa peran ini akan diambil alih oleh CPU dan bukan GPU? Haas menjelaskan bahwa akselerator AI berbasis GPU modern, seperti chip Blackwell atau Rubin buatan Nvidia, saat ini sudah mendekati batasnya.
Artinya, ukuran fisik chip GPU sudah mencapai batas area maksimum yang bisa dicetak oleh mesin litografi (alat pencetak silikon). Di sisi lain, ruang pengembangan fisik CPU masih jauh lebih longgar untuk ditingkatkan skalanya. Karena itulah, jumlah core CPU berpotensi berlipat ganda atau bahkan melesat empat kali lipat dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Pertarungan Menuju Era 512 Core
Lebih lanjut, Haas turut menyoroti kapabilitas perusahaannya dalam menggenjot jumlah core pada desain CPU berbasis arsitektur Arm. Sebagai gambaran kompetisi chip server saat ini:
- Arm: Baru saja meluncurkan AGI CPU yang membawa hingga 126 core.
- Intel: Telah mengembangkan desain CPU server (Xeon) yang memuat hingga 288 efficiency core (E-core) berarsitektur x86.
- AMD: Diprediksi akan menyentuh angka 256 core melalui prosesor Epyc berbasis Zen 6.
Ke depannya, Haas membayangkan sebuah lompatan gila di mana desain CPU akan memuat 256 core, bahkan hingga 512 core. Dengan jumlah "otak" komputasi yang begitu masif di dalam satu chip, efisiensi konsumsi listrik akan menjadi kunci penentu.
Dalam skenario tersebut, Arm diyakini akan sangat diuntungkan karena arsitektur mereka secara historis terbukti memiliki efisiensi daya yang jauh lebih tangguh dibandingkan para pesaingnya yang mengandalkan arsitektur x86, demikian dirangkum detikINET dari TechSpot, Sabtu (16/5/2026).
(asj/hps)

