Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Serangan Siber Makin Canggih, Pelaku Bongkar Data Pribadi dari Foto

Serangan Siber Makin Canggih, Pelaku Bongkar Data Pribadi dari Foto


Agus Tri Haryanto - detikInet

Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Mayjen TNI Bondan Widiawa
Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Mayjen TNI Bondan Widiawa. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET
Jakarta -

Pola serangan siber terus berkembang dan menjadi semakin canggih, bahkan mampu menembus sistem yang selama ini dianggap aman. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengungkapkan mengungkapkan pola serangan siber tersebut.

Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Mayjen TNI Bondan Widiawan, mengungkapkan sejumlah kasus serangan siber terbaru justru masuk melalui jalur yang umum digunakan, seperti port 443 yang berbasis HTTPS.

Padahal disampaikannya, bahwa port tersebut sudah menggunakan protokol keamanan seperti SSL/TLS. Namun dalam praktiknya, sistem tersebut tetap dapat ditembus. Sementara itu, port yang lebih lemah seperti port 80 dinilai semakin rentan terhadap serangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya itu, metode serangan juga semakin kompleks. Bondan menyebut, pelaku kerap menggunakan teknik injeksi untuk masuk ke dalam sistem, termasuk pada sistem profiling yang kini semakin mudah dieksploitasi.

"Dari sebuah foto saja, kita bisa mengetahui identitas seseorang, lokasi rumah, dan informasi lainnya," ujar Bondan di acara R17 Podcast Show vol.4 di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

ADVERTISEMENT

Perkembangan teknik serangan juga terlihat dari penggunaan metode steganografi, yaitu menyembunyikan data di dalam file media seperti audio atau video. Teknik ini pernah digunakan dalam kasus besar kebocoran dokumen yang melibatkan Julian Assange melalui WikiLeaks.

Dalam kasus tersebut, data sensitif disisipkan ke dalam file lagu dengan memodifikasi bagian kecil dari data digital sehingga tidak terdeteksi secara kasat mata.

Selain itu, Bondan menilai sistem kriptografi yang saat ini masih banyak digunakan juga memiliki kelemahan, terutama dalam menghadapi perkembangan komputasi modern.

"Kita masih menggunakan kriptografi asimetris yang pada dasarnya lemah jika diserang dengan komputasi modern," ungkapnya.

Sebagai respons, BSSN mendorong penerapan teknologi keamanan yang lebih mutakhir, termasuk migrasi ke post-quantum cryptography serta penerapan konsep zero trust security untuk membatasi ruang gerak serangan.

Dengan semakin canggihnya metode yang digunakan pelaku, penguatan sistem keamanan dan kesiapan menghadapi ancaman siber dinilai menjadi kebutuhan mendesak di berbagai sektor.




(agt/agt)





Hide Ads