Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Iran Tuding Amerika Sabotase Jaringan Internet Pakai Botnet

Iran Tuding Amerika Sabotase Jaringan Internet Pakai Botnet


Anggoro Suryo - detikInet

Ilustrasi Keamanan Cyber
Foto: detikINET
Jakarta -

Pemerintah Iran secara terbuka menuduh Amerika Serikat telah menggunakan backdoor tersembunyi atau jaringan botnet yang ditanam sebelumnya untuk melumpuhkan peralatan jaringan di dalam negerinya. Insiden ini diklaim terjadi tepat saat serangan militer baru-baru ini tengah berlangsung.

Tudingan yang pertama kali didorong oleh media pemerintah Iran tersebut menyoroti kegagalan perangkat keras dari berbagai vendor raksasa seperti Cisco, Juniper, Fortinet, dan MikroTik. Perangkat-perangkat krusial tersebut dilaporkan tiba-tiba mati (reboot) atau terputus dari jaringan pada momen-momen kritis.

Menurut laporan dari kantor berita Fars dan Entekhab, Teheran meyakini bahwa gangguan massal ini mengarah pada dugaan sabotase tingkat tinggi, bukan sekadar kesalahan teknis biasa. Menariknya, rentetan kegagalan perangkat keras ini terjadi justru ketika Iran sedang memutus sebagian besar koneksinya dari internet global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Dua Teori Sabotase Utama

Para pejabat dan pakar di Iran mencurigai dua skenario utama terkait bagaimana sabotase ini bisa terjadi di tengah pemadaman internet:

  • Bom Waktu Firmware: Kode berbahaya diyakini telah disusupkan langsung ke dalam firmware atau bootloader perangkat sejak awal, lalu diprogram untuk aktif secara otomatis pada waktu yang telah ditentukan.
  • Jaringan Botnet Rahasia: Teori kedua menyebutkan bahwa botnet tersembunyi telah bersarang di perangkat-perangkat tersebut dan langsung diaktifkan begitu serangan militer dimulai.

Meski tuduhan tersebut terdengar serius, verifikasi independen untuk membuktikan klaim ini nyaris mustahil dilakukan. Tragedi pemadaman internet yang diberlakukan sendiri oleh Teheran justru menjadi bumerang yang menghalangi proses investigasi dari pihak luar.

Organisasi pemantau jaringan NetBlocks mencatat bahwa krisis internet di Iran kini telah memasuki hari ke-50. Sementara itu, laporan Al Jazeera menyebutkan bahwa otoritas setempat hanya memberikan akses konektivitas terbatas melalui sistem "Internet Pro" dan "kartu SIM putih" khusus untuk kelompok-kelompok tertentu saja.

Kecurigaan Iran tidak sepenuhnya muncul tanpa alasan. Deretan nama vendor yang dituduh nyatanya memang memiliki rekam jejak celah keamanan yang cukup kontroversial di masa lalu:

  • Cisco: Dokumen rahasia NSA yang dibocorkan oleh Edward Snowden pada tahun 2014 lalu membuktikan bahwa intelijen AS pernah mencegat pengiriman router Cisco untuk memasang alat penyadap sebelum tiba di tangan pelanggan.
  • Juniper: Pada tahun 2015, perusahaan ini pernah mengungkapkan adanya kode tidak sah di sistem ScreenOS mereka yang berpotensi memberikan celah akses jarak jauh dan deskripsi VPN kepada peretas.
  • Fortinet & MikroTik: Fortinet pernah mendapat sorotan tajam terkait kredensial hardcoded di sistem operasi lama mereka, sementara perangkat jaringan buatan MikroTik sudah berulang kali ditemukan menjadi sarang botnet.

Kondisi geopolitik yang memanas ini tentu saja langsung dimanfaatkan oleh Tiongkok. Berbagai media pemerintah dan badan siber Tiongkok langsung menggemakan klaim Iran ini sebagai amunisi tambahan. Mereka menyebut insiden ini sebagai bukti nyata bahwa Washington--bukan Beijing--yang sebenarnya merupakan "negara adidaya backdoor" di dunia maya.

Hingga saat ini, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan pernyataan publik resmi untuk membantah tuduhan spesifik tersebut, demikian dikutip detikINET dari berbagai Techspot, Kamis (23/4/2026).

Meski begitu, pihak Washington sebelumnya memang sudah secara terbuka mengakui adanya pengerahan operasi siber khusus sebagai bagian dari kampanye militer bersandi Operation Epic Fury.




(asj/asj)





Hide Ads