Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Laporan dari London
Rahasia Samsung Menang di Era Smartphone AI
Laporan dari London

Rahasia Samsung Menang di Era Smartphone AI


Fino Yurio Kristo - detikInet

Galaxy Z Fold8 Ultra
Samsung Galaxy Z Fold8 Ultra. Foto: Fino Yurio/detikinet
London -

Persaingan smartphone, khususnya di segmen premium, kini semakin bergeser ke ranah kecerdasan buatan (AI). Namun, Samsung menilai keunggulan AI tidak hanya ditentukan dari jumlah fitur yang disematkan pada perangkat, melainkan dari seberapa dalam teknologi tersebut terintegrasi dengan keseluruhan pengalaman pengguna.

Head of Marketing Samsung Electronics Southeast Asia & Oceania, Chon Hong, mengatakan perusahaan melihat AI bukan sebagai fitur tambahan yang dibenamkan pada perangkat yang sudah ada. Menurutnya, pendekatan Samsung berbeda karena AI Galaxy dikembangkan sebagai bagian dari fondasi pengalaman perangkat sejak awal.

"Saya pikir konsumen yang lebih cerdas, khususnya di Indonesia, akan memahami bahwa AI bukan hanya sekadar fitur, ini bukan sebuah spesifikasi. AI adalah tentang seberapa baik kami mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan pengalaman perangkat, bukan?" sebutnya kepada detikINET di sela Galaxy Unpacked 2026 di London.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Chon mengatakan banyak perangkat saat ini mulai menghadirkan kemampuan AI, tetapi menurutnya tantangan terbesar bukan sekadar menambahkan fitur baru, melainkan bagaimana membuat AI benar-benar bekerja secara mulus bersama sistem dan layanan yang ada.

"Jadi, kami bukan hanya sekadar menambahkan satu fitur pada hardware yang sudah ada, banyak merek lain melakukan hal itu, tapi pada Samsung Galaxy, kami sekarang mendesain ulang platform kami dari awal, bukan hanya menambahkan fitur di atas sistem operasi (OS), melainkan kami membangun fondasi baru," kata Chon Hong.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan perangkat Galaxy memiliki kesiapan untuk berinteraksi dengan berbagai layanan AI. "Di mana perangkat Galaxy kini siap untuk pada dasarnya bekerja dengan agen (AI) apa pun, softarwe AI apa pun yang Anda sukai dan bisa Anda pilih, sehingga aplikasi dan layanan kami menjadi lebih mulus (seamless), bekerja sama untuk Anda," jelasnya.

Samsung juga menilai kekuatan utama AI tidak hanya berada pada smartphone, tetapi pada ekosistem perangkat yang saling terhubung. Chon mengatakan kemampuan AI akan semakin maksimal ketika perangkat dapat memahami konteks pengguna melalui berbagai perangkat yang digunakan sehari-hari.

"Jadi melampaui smartphone, yang lebih penting saya pikir kekuatan Samsung ada pada ekosistem kami, kan? Karena agar AI dapat bekerja untuk Anda, layaknya asisten atau pendamping Anda di rumah, agar ia bisa bermanfaat bagi Anda, ia harus memahami konteks Anda," lanjutnya.

Ia mencontohkan bagaimana ekosistem Samsung yang mencakup televisi, perangkat rumah tangga, hingga perangkat wearable dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan pengguna.

"Samsung TV tahu jenis konten apa yang Anda sukai, peralatan rumah tangga Samsung yang tahu apa preferensi diet Anda, dan dari perangkat seperti jam tangan pintar Anda, kami dapat membantu melacak kesehatan Anda, semua ini digabungkan menjadi sebuah kecerdasan, kecerdasan sejati untuk Anda, hanya untuk Anda, dibandingkan dengan apa yang hanya bisa dilakukan oleh sekadar sebuah ponsel," lanjutnya.

Menurut Chon, inilah yang menjadi pembeda Samsung dalam persaingan AI smartphone. Perusahaan ingin menempatkan Galaxy AI sebagai pengalaman yang lebih menyeluruh dan personal, bukan sekadar kumpulan fitur yang tersedia di dalam perangkat.

"Saya rasa Samsung adalah tentang menyediakan pengalaman AI yang komprehensif dan holistik ini yang benar-benar disesuaikan untuk Anda, personalisasi," cetusnya.



(fyk/rns)






Hide Ads