Hacker Pembobol Jaringan Minyak AS Terungkap, Ini Pengakuannya

Hacker Pembobol Jaringan Minyak AS Terungkap, Ini Pengakuannya

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Kamis, 13 Mei 2021 13:30 WIB
Hacker di Indonesia bobol puluhan ribu data pemohon bansos AS, raup hampir setengah miliar rupiah
Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Hacker dan pengirim ransomware ke Colonial Pipeline terungkap, dan pelakunya pun menjelaskan aksi serangan siber tersebut.

Colonial Pipeline adalah perusahaan operator pipa minyak paling besar di AS, yang bertanggung jawab atas setengah dari pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk kawasan East Coast.

Sindikat yang mengirimkan ransomware tersebut dikonfirmasi oleh FBI, yaitu DarkSide, sindikat hacker yang berasal dari Eropa Timur. DarkSide pun mengakui aksinya itu lewat sebuah postingan di dark web.

Dalam postingan tersebut DarkWeb menjelaskan kalau tujuan mereka dalam melakukan serangan siber itu hanya satu, yaitu menghasilkan uang. Mereka mengaku tidak punya ikatan dengan pemerintah atau badan politik manapun.

Lebih lanjut, DarkSide juga mengaku mereka tak bertujuan menciptakan masalah untuk masyarakat luas karena aksinya itu. Padahal, kiriman ransomware untuk Colonial itu membuat mereka tak bisa menyuplai bahan bakar minyak ke para pelanggannya.

Sebagai informasi, Colonial tiap harinya mengirimkan 2,5 juta barrel bensin dan bermacam BBM lain lewat pipanya yang membentang sepanjang 8.850 km dari Gulf Coast ke bagian timur dan selatan AS. Mereka juga menjadi penyuplai BBM untuk beberapa bandara besar di AS, termasuk Hartsfield Jackson Airport di Atlanta, bandara tersibuk di dunia.

Uniknya, DarkSide berjanji untuk lebih berhati-hati lagi dalam memilih target serangannya, yaitu dengan memasukkan proses moderasi target ke dalam alur kerja mereka. Tujuannya untuk menghindari adanya konsekuensi sosial yang terjadi akibat aksi mereka.

Sejak Agustus 2020, DarkSide mengaku sudah membobol lebih dari 80 perusahaan, dan menghasilkan jutaan dolar dari aksinya itu, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Kamis (13/5/2021).

Perusahaan keamanan siber Cybereason menyebut Darkside sebenarnya adalah penyedia 'ransomware as a service', alias layanan ransomware yang berusaha menciptakan citra bahwa mereka punya etika, dan punya aturan tersendiri seperti tak akan menyerang institusi pendidikan, medis, badan pemerintahan, ataupun lembaga swadaya masyarakat.

Bahkan DarkSide pun disebut seringkali menyumbangkan hasil kejahatannya itu ke yayasan amal.



Simak Video "Sistem Transportasi di New York Dihack, Negara-negara Ini Dicurigai"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)