Dedemit Maya Korea Utara 'Hantui' Pembuat Vaksin AstraZeneca?

Dedemit Maya Korea Utara 'Hantui' Pembuat Vaksin AstraZeneca?

Josina - detikInet
Senin, 30 Nov 2020 06:13 WIB
Human hand on keyboard,isolated, selective focus, shallow depth of field, concept of work & technology.
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Peretas Korea Utara dicurigai telah mencoba bobol sistem milik perusahaan pembuat obat asal Inggris, AstraZeneca, dalam beberapa pekan terakhir.

Dilansir detiKINET dari Reuters, menurut dua sumber yang mengetahui informasi ini mengatakan bahwa modusnya dengan melalui perusahaan dikatakan sedang berusaha mengembangkan vaksin COVID-19.

Mereka mengatakan para peretas ini menyamar sebagai perekrut di situs LinkedIn dan WhatsApp untuk mendekati karyawan AstraZeneca dengan tawaran pekerjaan palsu. Peretas kemudian mengirimkan dokumen sebagai deskripsi pekerjaan yang dicampur dengan kode berbahaya yang dirancang untuk mendapatkan akses ke komputer korban.

Upaya peretasan ini menargetkan 'sekelompok besar orang', termasuk karyawan yang mengerjakan penelitian COVID-19 namun untungnya, upaya tersebut diduga tidak berhasil.

Perwakilan Korea Utara untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa tidak menanggapi permintaan komentar atas dugaan tersebut. Korut sebelumnya telah membantah melalukan serangan siber dan tidak ada jalur kontak langsung untuk media asing untuk mengonfirmasi laporan ini.

AstraZeneca menjadi salah satu dari tiga pengembang teratas vaksin COVID-19 juga menolak berkomentar.

Sebuah sumber mengatakan alat-alat dan teknik yang digunakan dalam serangan menunjukkan bahwa peretas adalah bagian dari kampanye peretasan yang oleh pemerintah AS dan peneliti keamanan siber dikaitkan dengan Korut.

Kampanye tersebut sebelumnya berfokus pada perusahaan pertahanan dan organisasi media tetapi beralih ke target terkait COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir, menurut tiga orang yang telah menyelidiki serangan tersebut.

Serangan siber terhadap badan kesehatan, ilmuwan vaksin, dan pembuat obat virus telah melonjak selama pandemi COVID-19. Di mana ketika kelompok peretas yang didukung negara dan kriminal berebut untuk mendapatkan penelitian dan informasi terbaru tentang wabah tersebut.

Informasi apa pun yang dicuri dapat dijual untuk mendapatkan keuntungan, memeras para korban, atau memberi pemerintah asing keuntungan strategi yang berharga.

Sebelumnya Microsoft mengatakan pada bulan ini telah melihat dua kelompok peretas Korea Utara yang menargetkan pengembang vaksin di beberapa negara, termasuk dengan mengirim pesan dengan deskripsi pekerjaan palsu. Microsoft tidak menyebutkan nama dari pihak yang menjadi target.

Pada Jumat (27/11) pemerintahan Korsel mengatakan badan intelijennya telah menggagalkan beberapa upaya peretasan tersebut.

Reuters sebelumnya telah melaporkan bahwa peretas dari Iran, China, dan Rusia telah berusaha membobol pembuat obat terkemuka dan bahkan Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun ini. Teheran, Beijing dan Moskow semuanya membantah tuduhan tersebut.

Salah satu sumber mengatakan beberapa akun yang digunakan dalam serangan di AstraZeneca didaftarkan ke alamat email Rusia untuk upaya yang mungkin untuk mengelabui penyelidik.



Simak Video "Apakah Tubuh Jadi Kebal COVID-19 Setelah Divaksin? "
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/afr)