Keamanan WhatsApp Terancam Dilucuti Intelijen '5 Mata'

Keamanan WhatsApp Terancam Dilucuti Intelijen '5 Mata'

Fino Yurio Kristo - detikInet
Senin, 19 Okt 2020 08:43 WIB
Pengguna WhatsApp
Pengguna WhatsApp. Foto: Getty Images
Jakarta -

WhatsApp dan beberapa layanan online lainnya dibekali perlindungan enkripsi end to end atau penyandian menyeluruh sehingga pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerima. Teknologi tersebut makin membuat gerah pihak penegak hukum termasuk intelijen.

Kelompok Five Eyes, yakni para intelijen gabungan 5 negara, Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia dan Selandia Baru, belum lama ini memperingatkan bahwa penyandian yang tidak dapat ditembus justru berpotensi tinggi membahayakan keamanan publik.

Otoritas dari negara-negara itu mempublikasikan pernyataan yang meminta industri teknologi mengembangkan solusi sehingga penegak hukum dapat mengakses pesan walaupun sudah diamankan dengan enkripsi.

"Ada konsensus yang terus meningkat antara pemerintah dan institusi internasional bahwa aksi harus diambil. Meskipun enkripsi itu vital dan privasi serta keamanan cyber harus dilindungi, hal itu seharusnya tidak mengorbankan penegak hukum," kata mereka.

Tidak hanya pesan, enkripsi juga melindungi komunikasi video dan audio. Hal itu dianggap sangat menyulitkan jika aparat ingin menginvestigasi kriminalitas yang terjadi melalui layanan seperti WhatsApp. Kejahatan besar seperti eksploitasi anak kadang dikoordinasi melalui jalur online itu.

Solusinya misalnya ada backdoor atau semacam pintu belakang di mana penegak hukum dapat mengakses pesan saat diperlukan. "Kami meminta perusahaan teknologi untuk bekerja dengan pemerintah dalam solusi yang layak secara teknis," tambah mereka seperti dikutip detikINET dari CNBC.

Dengan kata lain, teknologi perlindungan yang ada diharapkan tetap dapat mengamankan pesan telekomunikasi dari pengguna umum, tapi juga tidak menghalangi jika terjadi penyelidikan yang menyasar pesan di WhatsApp dan aplikasi lain.

Ini bukan pertama kalinya Five Eyes mendesak WhatsApp serta layanan sejenis berbuat sesuatu. Tahun silam, Five Eyes berpendapat bahwa perusahaan teknologi tak seharusnya mengembangkan sistem dan layanan mereka, termasuk enkripsi end to end, yang mewadahi kriminal atau membuat orang yang rentan kena risiko.

"Kita harus memastikan tidak diam saja di saat kemajuan teknologi menciptakan ruang di mana aktivitas kriminal yang paling mengerikan bisa tidak terdeteksi dan tidak kena hukuman," cetus Menteri Dalam Negeri Inggris, Priti Patel.



Simak Video "WhatsApp Luncurkan Fitur Baru Lagi: Hapus Chat dalam 7 Hari"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/afr)