Hacker dan komputer bisa dibilang adalah pasangan yang tak bisa dipisahkan lagi. Namun seiring berkembangnya isu soal keamanan, pengguna komputer pun semakin waspada. Kerjaan hacker pun semakin berat, muncullah yang namanya social engineering.
Kalau biasanya hacker mencuri password atau informasi kredensial lainnya dengan cara menyusupi komputer pengguna dengan virus atau malware, maka social engineering adalah cara hacker mencuri informasi langsung dari mulut pengguna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Contohnya begini, melalui obrolan hacker awalnya akan mengorek kebiasaan penggunaan password targetnya. Setelah diketahui misalnya target suka pakai password dengan nama anak atau nama sekolah, selanjutnya tinggal menggiring arah pembicaraan ke arah yang bisa membongkar ke jawabannya," ujar Dony Koesmandarin, Territory Channel Manager Kaspersky Indonesia, di Plaza Indonesia, Jakarta.
"Tapi untuk menghindari kecurigaan, hacker biasanya akan menyelingi obrolan dengan bicara yang lain-lain dulu," imbuhnya.
Menggunakan social engineering juga mampu memangkas signifikan usaha hacker dalam mengorek informasi. Menurut Dony, hacker bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membobol password pakai komputer, dengan social engineering waktu yang dibutuhkan berkisar sekitar setengah jam saja.
Meski kelihatannya menjanjikan, tetap bukan perkara mudah mengimplementasikan social engineering. Karena untuk membuat target blak-blakan soal kredensialnya tentunya dibutuhkan pendekatan yang sangat meyakinkan.
Namun bagaimanapun peluangnya, social engineering sudah masuk dalam daftar metode peretasannya. Jadi berhati-hatilah membicarakan informasi pribadi anda ke orang lain, karena bisa saja anda sedang jadi target social engineering. (yud/fyk)