Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Jakarta Sudah Operasi Modifikasi Cuaca Masih Hujan Lebat, Ahli: Kurang Metode

Jakarta Sudah Operasi Modifikasi Cuaca Masih Hujan Lebat, Ahli: Kurang Metode


Aisyah Kamaliah - detikInet

Jalan di depan Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta, dikepung banjir, Kamis (22/1/2026). Genangan air setinggi sekitar 15 hingga 25 sentimeter menutup ruas jalan utama yang menjadi akses keluar masuk rumah sakit sejak pagi hari, menyusul hujan deras dan meluapnya aliran kali di sekitar lokasi.
Hujan lebat hari ini di Jakarta, air menggenangi sejumlah titik jalan. Foto: Muhammad Reevanza
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bersama Pemprov DKI Jakarta dan TNI AU melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mitigasi risiko bencana akibat hujan ekstrem. Akan tetapi, netizen bertanya-tanya mengapa cuaca di Jakarta masih cenderung hujan deras disertai angin kencang.

Di kolom komentar unggahan @infobmkg, netizen menuliskan komentar dan kekhawatiran mereka soal hujan di Jakarta hari ini, Kamis (22/1/2026).

"Sepertinya OMC kali ini tidak berhasil, hujan msh terus deras," kata netter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Ga kebayang seberapa deresnya ini hujan klo ga dibantu sama OMC. Klo bisa perpanjang min. Soalnya msh rawan sampe akhir bulan🙌," timpal yang lain.

"Modifikasi dari dini hari hujan mulai dari jam 5 pagi sampai siang belum berhenti," ujar seseorang.

Dihubungi oleh detikINET, Dr Raden Djoko Goenawan Perekayasa Ahli Madya Senior dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN menjelaskan bahwa metode yang dipakai untuk Jakarta saat ini kurang lengkap. Hal ini yang menyebabkan curah hujan masih tinggi.

"Jadi dulu itu, dulu kita lengkap loh dari 2011, Sea Games pertama, tuh. Teknologi jumping dan kompetisi. Ibaratnya paket komplit. Sebetulnya nggak perlu pakai pesawat dan nggak perlu pakai garam," katanya.

Menurut Dr Djoko, sebenarnya perlu digunakan kombinasi metode jumping dan kompetisi. Saat ini, apabila mengandalkan metode jumping, pencegahannya menjadi 'dipaksakan'.

"Sekarang ini kan kondisinya semuanya basah, banyak awan, banyak hujan. Mau di-jumping ke mana? Mau dibuang ke mana tuh awan hujannya? Semuanya sudah jenuh semua," tuturnya.

Dr Djoko mengungkap bahwa sistem kompetisi akan membuat uap air disergap terlebih dahulu oleh partikel yang dari burning (pembakaran). Sebelum adanya drone, ia mengatakan bahwa Jakarta telah menggunakan cara ini pada 2011.

Dari segi keberhasilan, Dr Djoko yakin akan sangat luar biasa apabila OMC dilakukan dengan gabungan metode ini.

"Karena ini kan pencegahan. Apalagi sekarang ada drone. Dulu kita pasang ada 12 titik di Jakarta dan di Palembang waktu Sea Games," ungkapnya.

Dr Djoko Goenawan sudah menebar garam untuk modifikasi cuaca bahkan sejak 1986.Dr Djoko Goenawan sudah menebar garam untuk modifikasi cuaca bahkan sejak 1986. Foto: Dok. Pribadi

Dengan menggunakan kombinasi dua metode ini, justru Dr Djoko yakin -- selain hasilnya lebih maksimal -- biayanya juga akan lebih murah. Ketimbang dilakukan jumping saja, akan semakin banyak kuantitasnya.

"Malah sebetulnya nanti jumping proses tidak perlu banyak-banyak. Apalagi pakai drone sama ground particle generator 24 jam," ucapnya.

Ditekankan olehnya, tidak ada kata terlambat untuk melengkapi metode OMC, mengingat musim hujan masih akan berlangsung hingga Maret. Karena itu, sebelum terbentuk awan, sebenarnya kita masih bisa merebut uap air yang akan menjadi awan, sehingga curah hujan bisa berkurang.

"Yakin saya, bisa. Dan nggak ada kata terlambat, ya. Ini bahaya ini kalau tidak segera. Saya sudah bilang sama teman-teman (peneliti -- red) untuk mengingatkan tim TMC," tandasnya.




(ask/ask)






Hide Ads