Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Petir Vulkanik Muncul Saat Anak Krakatau Erupsi, Ini Penyebabnya

Petir Vulkanik Muncul Saat Anak Krakatau Erupsi, Ini Penyebabnya


Rachmatunnisa - detikInet

Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam tersebut terindikasi sebagai pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter yang merupakan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr
Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Jakarta -

Erupsi Gunung Anak Krakatau bukan hanya menghasilkan abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah wilayah. Fenomena lain juga terdeteksi selama aktivitas erupsi, yakni petir.

Fenomena tersebut bukan sekadar petir biasa yang kebetulan terjadi ketika gunung sedang erupsi. Kilatan listrik itu dikenal sebagai petir vulkanik, fenomena yang dapat terbentuk akibat proses fisika di dalam material erupsi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi fenomena tersebut selama pemantauan aktivitas Anak Krakatau. Pada Minggu (6/9), BMKG menyebut adanya gangguan geomagnetik dan peningkatan sambaran petir vulkanik.

"BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intesitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal," ujar Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dikutip dari situs BMKG.

Partikel Erupsi Hasilkan Listrik

Petir vulkanik terbentuk ketika terjadi pelepasan muatan listrik di dalam atau di sekitar kolom erupsi. Ketika gunung api mengalami erupsi eksplosif, material dari dalam gunung terdorong keluar dengan sangat kuat.

Magma dapat terpecah menjadi partikel-partikel sangat kecil, bercampur dengan gas dan material batuan, kemudian membentuk kolom erupsi yang menjulang ke atmosfer.

Di dalam kolom tersebut, partikel bergerak dengan cepat dan saling bertumbukan. Interaksi tersebut dapat menyebabkan terjadinya pemisahan muatan listrik. Dalam kondisi tertentu, perbedaan muatan yang terbentuk menjadi cukup besar untuk menghasilkan loncatan listrik. Dari sinilah kilatan petir vulkanik dapat muncul.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) pernah menjelaskan hal serupa, yakni ketika petir muncul saat erupsi Gunung Ruang di 2024. PVMBG menyebut kilatan itu berkaitan dengan suhu tinggi yang memanaskan ion-ion gas hingga terjadi loncatan muatan listrik. Fenomena petir ketika gunung api erupsi adalah fenomena alam yang biasa terjadi.

Jadi, meski bentuknya menyerupai petir yang biasa terlihat saat hujan badai, sumber energinya berbeda. Pada petir vulkanik, prosesnya berkaitan dengan material dan gas yang dilepaskan gunung api selama erupsi.

Petir vulkanik bukan hanya menarik perhatian karena menghasilkan pemandangan dramatis. Fenomena tersebut juga dapat memberikan informasi tambahan mengenai aktivitas erupsi.

BMKG menggunakan berbagai instrumen untuk memantau Anak Krakatau secara terus-menerus, termasuk lightning detector dan sensor magnet bumi. Data tersebut dipadukan dengan pengamatan atmosfer, citra satelit, serta informasi dari PVMBG-Badan Geologi.

Dalam kasus Anak Krakatau, peningkatan petir vulkanik tercatat bersamaan dengan gangguan geomagnetik. Namun, temuan tersebut tidak berarti petir vulkanik dapat digunakan untuk memastikan letusan akan semakin besar.

Justru data BMKG menunjukkan intensitas gangguan yang terdeteksi pada periode pemantauan tersebut lebih rendah dibandingkan letusan awal pada 4 September. Karena itu, aktivitas petir harus dibaca bersama data pemantauan lainnya.

Badan Geologi pada Senin (7/9/2026) juga melaporkan aktivitas Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Pada periode 6-7 September, masih terjadi erupsi Strombolian dan aktivitas vulkanik terus dipantau serta dievaluasi.



(rns/afr)




Hide Ads
LIVE