Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Abu Vulkanik Bikin Tanah Subur dan Turunkan Karbon, Ayo Cek Fakta!

Abu Vulkanik Bikin Tanah Subur dan Turunkan Karbon, Ayo Cek Fakta!


Aisyah Kamaliah - detikInet

Lava pijar dari Gunung Anak Krakatau terlihat dari Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rangkaian letusan yang terjadi sejak Jumat (4/9) malam tersebut terindikasi sebagai pancaran lava (lava fountain) dengan durasi gempa letusan mencapai 21.600 detik dan amplitudo maksimum 70 milimeter yang merupakan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026. ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/agr
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Jakarta -

Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat hujan abu vulkanik turun di sejumlah tempat. Di samping kekhawatiran soal bahaya abu jika terhirup dan masuk sistem pernapasan manusia, ada sisi positif yang terungkap.

Di antara yang ramai dibahas adalah soal potensi manfaat abu vulkanik bikin tanah subur hingga mengurangi kadar karbon di atmosfer. Isu ini pernah dibahas oleh Kurniatun Hairiah dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya dan kawan-kawan. Melalui artikel 'Applying volcanic ash to croplands - The untapped natural solution' yang dipublikasikan di jurnal Science Direct pada 25 November 2020, mereka membahas terkait hal tersebut.

"Di negara-negara dengan gunung berapi aktif, seperti Indonesia, abu vulkanik dapat dimanfaatkan untuk menyediakan nutrisi dan mengurangi CO2 dari atmosfer. Proses pelapukan dapat menyerap CO2 dari atmosfer; selain itu, abu vulkanik yang awalnya tidak mengandung karbon dapat berubah menjadi tanah dengan kandungan karbon organik sekitar 10%," tulis peneliti.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Di negara-negara dengan gunung berapi aktif, abu vulkanik (tefra) merupakan solusi berbasis alam yang lebih layak untuk perbaikan tanah dan pengurangan CO2. Ini dikarenakan tefra mampu menangkap dan menyimpan karbon. Tanah yang terbentuk dari tefra yaitu Andisol (atau Andosol) tergolong sebagai tanah mineral yang paling subur dan kaya karbon di dunia. Andisol hanya mencakup 1% dari permukaan bumi, akan tetapi menyimpan sekitar 5% dari cadangan karbon tanah global.

"Analisis kami terhadap lapisan atas tanah vulkanik di Sumatra Barat menunjukkan rata-rata kandungan karbon organik sebesar 4%, dan pada beberapa kasus, kandungan karbon tersebut dapat mencapai hingga 15%. Berkat kesuburannya, Andisol sering kali menopang kepadatan penduduk yang tinggi dan memegang peranan krusial dalam menjamin ketahanan pangan," ujar mereka.

Di Indonesia, tanah yang berasal dari material vulkanik mencakup sekitar 31,7 juta hektar atau 17% dari total luas daratan. Letusan gunung berapi yang sering terjadi membuat abu vulkanik atau tefra tersedia dalam jumlah melimpah di sini.

"Pada tahun-tahun dengan letusan gunung berapi yang signifikan, jumlah CO2 yang diserap dapat mencapai 100-200 Mt, atau setara dengan 20-40% dari emisi bahan bakar fosil negara tersebut. CO2 yang diserap selama proses pelapukan material vulkanik merupakan bagian dari siklus karbon global dan dipengaruhi oleh keputusan terkait penggunaan lahan," terang Kurniatun dkk.

Berdasarkan data letusan gunung berapi sejak tahun 1970, rata-rata 47 Mt material vulkanik terlontar di Indonesia setiap tahunnya. Pada tahun-tahun tertentu, misalnya antara tahun 2013 dan 2019, beberapa letusan besar, seperti Merapi, Kelud, Sinabung, dan Anak Krakatau, menghasilkan sekitar 500-600 Mt material per tahun. Pada tahun-tahun dengan letusan signifikan, abu vulkanik dapat menyerap 100-200 Mt setara CO2 (CO2-eq), yang mencakup 20-40% dari emisi CO2 tahunan Indonesia yang berasal dari bahan bakar fosil (530 Mt CO2-eq pada tahun 2016; Worldometer, 2020).

Lebih lanjut, peneliti menyebut efek abu vulkanik ditentukan oleh kuantitas dan komposisinya. Tefra dapat bersifat asam hingga basa, namun mengandung banyak unsur yang mudah larut. Gas dan unsur volatil yang dilepaskan selama letusan gunung berapi dapat teradsorpsi oleh tefra. Jenis magma memengaruhi komposisi abu vulkanik. Ion-ion yang umumnya teradsorpsi meliputi Cl, Ca, Na, SO42βˆ’, Mg, dan F; ion-ion ini sangat mudah larut dan segera terlindi ke dalam tanah serta lingkungan.

Meski begitu, Kurniatun dkk mengakui bahwa potensi penyerapan CO2 oleh abu vulkanik memerlukan kajian lebih lanjut. Mekanisme proses geokimia terkait pelapukan dan pelarutan mineral vulkanik di dalam tanah perlu dipahami lebih baik agar laju dan metode aplikasi abu tersebut dapat dioptimalkan.



(ask/fay)




Hide Ads