Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Apa Itu HAARP yang Ramai Dikaitkan dengan Erupsi Gunung?

Apa Itu HAARP yang Ramai Dikaitkan dengan Erupsi Gunung?


Tim detikInet - detikInet

Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, NTT, meletus sore ini, Senin (7/9/2026).
Apa Itu HAARP yang Ramai Dikaitkan dengan Erupsi Gunung? Foto: Dok. PVMBG
Daftar Isi
Jakarta -

HAARP kembali ramai dibicarakan warganet di tengah aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia. Teknologi milik fasilitas penelitian di Alaska, Amerika Serikat, itu bahkan dikaitkan dengan narasi bahwa erupsi gunung dapat dipicu menggunakan gelombang elektromagnetik.

Namun, apa sebenarnya HAARP dan benarkah teknologi ini mampu memicu letusan gunung berapi?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Apa Itu HAARP?

HAARP merupakan singkatan dari High-frequency Active Auroral Research Program. Dilansir detikINET dari situs resmi University of Alaska Fairbanks (UAF), HAARP adalah fasilitas penelitian yang digunakan untuk mempelajari ionosfer, lapisan atmosfer atas Bumi yang berperan penting dalam propagasi gelombang radio.

Instrumen utama HAARP bernama Ionospheric Research Instrument (IRI). Perangkat ini terdiri dari susunan 180 antena dipol silang berfrekuensi tinggi atau HF yang tersebar di area sekitar 33 acre atau 13 hektare.

IRI mampu memancarkan daya hingga 3,6 megawatt (MW) ke atmosfer bagian atas dan ionosfer. Frekuensinya dapat dipilih antara 2,7 hingga 10 MHz. Susunan antenanya memungkinkan pancaran diarahkan ke berbagai sudut dan dibentuk menjadi beberapa pola.

Fasilitas tersebut memiliki 30 shelter pemancar. Masing-masing dilengkapi enam pasang pemancar berkekuatan 10 kilowatt.

HAARP Digunakan untuk Apa?

HAARP memungkinkan ilmuwan melakukan eksperimen terkontrol terhadap bagian kecil ionosfer. Gelombang radio HF digunakan untuk memanaskan elektron dan menghasilkan gangguan kecil yang menyerupai proses yang terjadi secara alami.

Dengan cara ini, peneliti dapat menentukan kapan dan di mana gangguan terjadi, mengukur efeknya, kemudian mengulangi eksperimen untuk memverifikasi hasil.

Eksperimen HAARP antara lain dapat menciptakan struktur dan ketidakteraturan plasma, menghasilkan gelombang berfrekuensi rendah hingga menciptakan pancaran cahaya lemah menyerupai aurora yang hanya dapat diamati menggunakan instrumen sensitif.

Penelitian ionosfer penting karena lapisan ini memengaruhi komunikasi radio, GPS dan sistem navigasi serta teknologi lain yang berhubungan dengan cuaca antariksa.

HaarpHaarp Foto: HAARP

Sejarah HAARP

Program HAARP dimulai pada 1990 sebagai inisiatif Kongres AS untuk meningkatkan pemahaman mengenai atmosfer atas Bumi dan pengaruhnya terhadap perambatan gelombang radio.

Dari 1990 hingga 2014, program tersebut dikelola bersama oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS. Salah satu fokusnya adalah memahami ionosfer untuk meningkatkan sistem komunikasi dan pengawasan, baik untuk kepentingan sipil maupun pertahanan.

Fasilitasnya terus dikembangkan hingga pembangunan akhirnya rampung pada 2007. Saat itu IRI telah memiliki 180 elemen antena dengan kemampuan daya pancar 3,6 MW.

Pada Agustus 2015, peralatan penelitian HAARP dialihkan kepada University of Alaska Fairbanks. Fasilitas tersebut kemudian digunakan komunitas ilmiah untuk penelitian ionosfer dan fisika antariksa.

HAARP masih digunakan untuk kegiatan ilmiah. Bahkan pada Agustus 2026, UAF menggelar Polar Aeronomy and Radio Science Summer School yang melibatkan eksperimen menggunakan fasilitas HAARP.

Benarkah HAARP Bisa Memicu Erupsi Gunung?

Narasi yang menghubungkan HAARP dengan erupsi gunung api tidak memiliki dasar ilmiah. Pakar kegempaan Indonesia Daryono Perwira Sakti menegaskan tudingan bahwa erupsi sejumlah gunung api di Indonesia disebabkan teknologi atau "senjata" tertentu tidak masuk akal dalam ilmu kebumian.

Menurut Daryono, energi yang memicu erupsi berasal dari proses jauh di dalam Bumi. Magma dapat bergerak naik akibat gaya apung karena densitasnya lebih rendah daripada batuan di sekitarnya, disertai akumulasi tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida dan sulfur dioksida.

Tekanan pada sistem magma dapat mencapai ratusan megapascal. Sementara sumber magma dan proses tektonik berada pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer.

"Tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja," jelas Daryono di akun X miliknya.

Gelombang radio HAARP sendiri ditujukan ke ionosfer, yang dimulai sekitar 60-80 km di atas permukaan Bumi dan membentang hingga lebih dari 500 km.

Dengan kata lain, objek yang dipelajari HAARP berada jauh di atas permukaan Bumi, sedangkan proses pembentukan dan pergerakan magma berlangsung jauh di bawah permukaan Bumi.

Menurut Daryono, tingginya aktivitas vulkanik Indonesia dapat dijelaskan oleh posisi geografisnya di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

Indonesia berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar. Proses penunjaman lempeng membawa material ke kedalaman mantel dan berkontribusi terhadap pembentukan magma dalam skala waktu geologi.

Erupsi juga tidak terjadi sekadar karena sebuah "tombol" dinyalakan. Pergerakan magma biasanya menghasilkan berbagai sinyal yang dapat dipantau, mulai dari gempa vulkanik dan tremor, deformasi tubuh gunung, perubahan emisi gas hingga peningkatan suhu.

"Seluruh proses akumulasi massa dan energi ini membutuhkan waktu bulanan hingga tahunan di dalam kerak bumi dan terekam secara transparan oleh instrumen geofisika global," kata Daryono.

UAF sendiri secara tegas menyebut HAARP hanyalah pemancar radio besar untuk penelitian ionosfer. Bahkan klaim bahwa HAARP mampu mengendalikan cuaca dibantah karena gelombang radio yang digunakannya tidak diserap troposfer dan stratosfer, dua lapisan atmosfer tempat berlangsungnya cuaca.

Karena itu, menghubungkan HAARP dengan aktivitas gunung api di Indonesia tidak sesuai dengan cara kerja fasilitas tersebut maupun mekanisme fisika yang menyebabkan erupsi.



(afr/afr)






Hide Ads