Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Heboh Fisikawan Klaim Temukan 'Lokasi Tuhan'

Heboh Fisikawan Klaim Temukan 'Lokasi Tuhan'


Rachmatunnisa - detikInet

Galaxy panoramic, star cluster and nebula shining in a milky way - High definition background
Ilustrasi alam semesta. Foto: Getty Images/iStockphoto/titoOnz
Jakarta -

Klaim tak biasa datang dari seorang fisikawan yang menyebut telah menemukan 'lokasi Tuhan' di alam semesta. Fisikawan sekaligus penulis sains Dr. Michael GuillΓ©n mengatakan lokasi Tuhan berada di tepi alam semesta teramati (observable universe).

Lebih rinci, GuillΓ©n menjelaskan bahwa jarak lokasi Tuhan dengan Bumi sekitar 439 miliar triliun kilometer, setara dengan kira-kira 46 miliar tahun cahaya. "Jika ingin membayangkan di mana Tuhan berada, itu ada di tepi alam semesta yang dapat kita amati," ujarnya seperti dikutip dari IFL Science, Selasa (11/8/2026).

Tapi ternyata, GuillΓ©n menekankan bahwa istilah tersebut hanyalah metafora untuk membantu menjelaskan konsep kosmologi yang sangat abstrak, bukan pernyataan teologis. "Ini bukan klaim teologis, melainkan cara menggambarkan batas dari apa yang bisa kita amati," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan kata lain, lokasi Tuhan yang ia maksud adalah garis batas pengetahuan manusia tentang alam semesta. Batas alam semesta teramati muncul karena cahaya memiliki kecepatan terbatas.

Sejak Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun lalu, hanya cahaya dari wilayah tertentu yang sempat mencapai Bumi. Namun, karena alam semesta terus mengembang, objek-objek tersebut kini berada jauh lebih jauh dari jarak tempuh cahaya semata.

ADVERTISEMENT

"Karena ruang terus mengembang, apa yang kita lihat sekarang jauh melampaui jarak sederhana yang kita bayangkan," ujarnya.

Di luar batas tersebut, ilmuwan meyakini masih ada galaksi dan struktur kosmik lain. Namun, semuanya tidak dapat diamati dengan teknologi saat ini karena cahayanya belum pernah mencapai Bumi.

Konsep ini menjadi salah satu dasar penting dalam kosmologi modern, sekaligus menunjukkan keterbatasan manusia dalam memahami alam semesta secara utuh. Pada akhirnya, klaim GuillΓ©n bukanlah tentang menemukan Tuhan secara harfiah, melainkan cara menarik untuk menggambarkan satu hal penting dalam sains, yakni ada batas sejauh mana manusia bisa melihat dan memahami alam semesta.



(rns/fay)






Hide Ads