Sebuah kota yang sepenuhnya akan ditenagai oleh kecedasaan buatan (AI) sedang dalam tahap pembangunan. Diperkirakan proses pengembangannya akan menelan biaya hingga USD 1 miliar atau sektiar Rp 17,9 triliun.
Ide ini datang dari perusahaan AI bernama Praxis. Mereka telah mengumumkan hal itu pada 22 September 2026 dan akan membangunnya di Amerika Selatan.
"Fase pertama dari komunitas baru ini akan disebut +Colonia, dan akan menjadi pengembangan perkotaan di tepi laut. program investasi yang direncanakan akan mendukung perumahan, infrastruktur, perhotelan, dan ruang untuk kegiatan budaya dan komersial. Seiring perkembangan proyek, Praxis bertujuan untuk menciptakan peluang bagi pekerja konstruksi Uruguay, profesional perhotelan, pemasok, dan bisnis kreatif," kata Praxix, dikutip detikINET dari Dexerto, Minggu (27/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk kelompok pertama yang akan menghuni kota ini dijadwalkan pindah pada pertengahan 2027. Jadi, tidak seperti kota terinspirasi Wakanda milik Akon yang kini telah dibatalkan, karena Praxis akan melalukannya lebihcepat, setidaknya tidak akan memakan waktu bertahun-tahun.
"Setiap wilayah baru membutuhkan para pionir yang bersedia membangun. Kami ingin membawa semangat itu ke era peradaban manusia berikutnya," kata CEO Praxis, Dryden Brown.
Praxis mengungkapkan kota ini akan dibangun di Uruguay. Dirinya menyampaikan alasan memilih negara ini ialah karena lokasinya dinilai memiliki keindahan alam, keadaan politik dan ekonomi yang stabil, dan lembaga demokrasi yang kuat.
"AGI (Artificial General Intelligence) dapat menciptakan kekayaan dalam skala yang belum pernah dilihat dunia. Kami ingin mengubah sebagian dari kekayaan itu menjadi tempat dan institusi yang layak menerimanya," ucap Brown.
Seperti disebutkan tadi, ide membangun kota futuristik seperti yang dilakukan Praxis juga pernah direncanakan oleh seorang musisi ternama asal Amerika Serikat, Akon. Bahkan nilai yang akan dihabiskan untuk membuat kota terinspirasi Wakanda ini hingga USD 6 miliar.
Namun setelah lima tahun berjalan, lahan seluas 800 hektar di Mbodieno, Senegal, tetap kosong. Padahal sebelumnya proyek ini dijanjikan akan menghadirkan rumah sakit, sekolah, pusat perbelanjaan, lain sebagainya.
Kota ini juga rencananya akan menggunakan mata uang kripto ciptaannya, yakni Akoin. Sayangnya, sistem pembayaran ini turut mengalami banyak masalah. Akon mengakui bahwa proyek kripto miliknya tidak dikelola dengan baik.
Pertanyaannya, apakah upaya Praxis menghadirkan kota bertenaga AI akan terealisasi? Jawabannya masih harus menunggu hingga pertengahan 2027.
(hps/rns)