Pesawat antariksa yang dikirim ke orbit untuk menyelamatkan teleskop luar angkasa milik NASA akhirnya jatuh ke Bumi setelah gagal menjalankan tugasnya. Misi penyelamatan itu resmi berakhir kurang dari tiga bulan setelah diluncurkan.
Katalyst Space Technologies mengumumkan hancurnya pesawat luar angkasa berlengan tiga miliknya yang diberi nama Link. Wahana antariksa itu memasuki atmosfer Bumi pada Jumat (25/9) malam.
Link dikirim ke orbit sebagai bagian dari misi penyelamatan teleskop luar angkasa Swift Observatory milik NASA. Setelah Link jatuh dan terbakar di atmosfer, misi penyelamatan ini dinyatakan berakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun kami akan sedih melihat misi Swift berakhir, kami tahu upaya ini akan bermanfaat apa pun yang terjadi," kata Shawn Domagal-Goldman dari NASA dalam pernyataan resminya, seperti dikutip detikINET dari Associated Press, Sabtu (26/9/2026).
Domagal-Goldman menambahkan upaya ini merupakan latihan berharga untuk misi penyelamatan satelit di masa mendatang dan mendorong tim untuk berpacu melawan waktu.
Dikembangkan dalam waktu kurang dari satu tahun, Link seharusnya menangkap teleskop Swift dan mendorongnya ke orbit yang lebih tinggi sehingga dapat terus beroperasi. Peningkatan aktivitas Matahari membuat orbit Swift turun lebih cepat dari perkiraan.
Link diluncurkan pada 3 Juli, tapi setelah sampai di orbit wahana ini mengalami masalah teknis yang merusak dua dari tiga roda yang dibutuhkan untuk berputar. Kemudian katup yang rusak menyebabkan satelit berputar dengan cepat sehingga mengganggu komunikasi.
Teknisi di Bumi berhasil mengambil alih, tetapi Link tidak memiliki cukup bahan bakar untuk menjalankan tugasnya. Misi penyelamatan senilai USD 30 juta ini kemudian dihentikan pada Agustus.
Sementara itu, teleskop Swift sekarang kembali melanjutkan tugasnya untuk memindai alam semesta setelah sempat ditangguhkan pada awal tahun ini. Karena posisinya di orbit terus turun, teleskop ini diperkirakan jatuh ke Bumi pada November 2026.

