Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Hanya 25 Tahun Cahaya dari Bumi, Planet Ini Diduga Dihuni

Hanya 25 Tahun Cahaya dari Bumi, Planet Ini Diduga Dihuni


Fino Yurio Kristo - detikInet

Para astronom menduga mereka baru saja menyaksikan peristiwa kosmik yang sangat langka, dua planet bertabrakan di sistem bintang yang jauh dari Bumi.
Ilustrasi exoplanet. Foto: Andy Tzanidakis
Jakarta -

Sebuah planet berbatu ditemukan di zona layak huni di sekitar bintang katai merah, hanya berjarak 25 tahun cahaya dari kita. Namun karena menghadapi angin radiasi ekstrem dari bintang induknya, masih belum jelas apakah eksoplanet ini memiliki atmosfer atau kehidupan. Meskipun demikian, astronom merayakan penemuan ini.

"Penemuan ini sangat menarik. Ini adalah salah satu tetangga kosmik terdekat kita. Dua puluh lima tahun cahaya terdengar sangat jauh, tapi galaksi Bimasakti membentang sekitar 100.000 tahun cahaya, jadi dalam skala kosmik planet ini tetangga sebelah rumah kita," kata Paul Robertson dari University of California, Irvine.

Planet bernama GJ 3378b ini mengorbit bintang katai merah redup di konstelasi Camelopardalis. Ia ditemukan tahun 2024 oleh astronom Prancis menggunakan teleskop di Mauna Kea. Astronom Amerika mengungkap planet itu kemungkinan lebih mirip Bumi daripada dugaan sebelumnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yang kita ketahui pasti hanyalah massa dan orbit GJ 3378b. Kita belum tahu apakah ia mirip dengan Bumi atau tidak-ia bisa saja memiliki daratan, lautan, awan, dan kehidupan, atau bisa juga hampa udara dan dipenuhi kawah.

Ketika ditemukan, massanya terukur 5,26 kali massa Bumi, menempatkannya sebagai 'mini-Neptunus', yakni planet dengan sebagian besar gas. Namun dengan mengamati ulang menggunakan dua teleskop berbeda, tim Robertson menunjukkan massa sebenarnya adalah 2,3 kali massa Bumi. Berarti planet tersebut lebih mendekati kategori 'Bumi-super' berbatu.

ADVERTISEMENT

Observasi yang sama menemukan periode orbit GJ 3378b adalah 21 hari, bukan 25 hari seperti yang diukur sebelumnya. Berarti planet tersebut lebih dekat dengan bintangnya di zona layak huni di mana suhunya cocok untuk air cair di permukaan planet jika memiliki atmosfer. Maka, peluang GJ 3378b ayak huni cukup meyakinkan.

"Bumi-super ini mendapatkan sekitar 90% radiasi dari bintang induknya dibandingkan yang diterima Bumi dari Matahari, jadi ia berada tepat di titik ideal," ujar Robertson yang dikutip detikINET dari Space.com.

Tantangan Radiasi dan Pencarian Tanda Kehidupan

Namun ada satu masalah besar, bintang katai merah memuntahkan aliran radiasi berbahaya dalam embusan angin bintang yang ganas, yang dapat mengikis atmosfer sebuah planet. Hal ini memunculkan pertanyaan penting, apakah GJ 3378b benar-benar memiliki atmosfer?

Saat ini belum ada cara untuk memastikannya. Astronom harus menunggu hingga tahun 2040-an-ketika Habitable Worlds Observatory milik NASA diharapkan telah diluncurkan untuk menjawab pertanyaan apakah planet ini sungguh memiliki atmosfer.

Meski begitu, astronom tetap menaruh harapan. GJ 3378b berada tepat di tepi zona di mana planet diperkirakan sangat terpapar radiasi, yang berarti planet ini mungkin saja lolos dari dampak terburuk. Jika demikian, mungkin akan ada lebih dari sekadar atmosfer yang bisa ditemukan oleh Habitable Worlds Observatory nantinya.

"Tujuan utamanya tanda-tanda biologis. Kita sungguh ingin tahu, apa kita sendirian di alam semesta? Kita masih dalam tahap pengintaian di tata surya kita, mencoba menemukan planet-planet di sekitar bintang terdekat karena target tersebut akan menjadi yang termudah untuk dideteksi tanda biologisnya," kata astronom University of Texas di Austin, Michael End.




(fyk/fyk)
TAGS




Hide Ads