Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kiamat Es Mengancam Nyawa Penguin Terbesar Dunia

Kiamat Es Mengancam Nyawa Penguin Terbesar Dunia


Fino Yurio Kristo - detikInet

Penguin kaisar
Penguin Kaisar. Foto: CNN
Jakarta -

Perubahan iklim mendorong dua spesies ikonik Antartika ke jurang kepunahan, yaitu penguin kaisar dan anjing laut bulu Antartika. Status batu ini, diterbitkan International Union for the Conservation of Nature (IUCN), menyebut faktor seperti menghangatnya laut, mencairnya es laut, dan menurunnya makanan yang menopang mereka.

Kedua spesies tersebut merupakan megafauna ikonik. Penguin kaisar adalah yang terbesar dari semua spesies penguin, dengan tinggi sekitar 90 cm dan berat sekitar 45 kg. Burung ini, beserta bayinya yang besar dan berbulu lebat, ditampilkan secara menonjol dalam film dokumenter klasik March of the Penguins.

Adapun anjing laut bulu adalah yang terkecil dari spesies anjing laut Antartika dan hidup terutama di kepulauan sub-Antartika. Mereka diburu hingga hampir punah pada abad ke-19, tapi intervensi hukum dan proyek konservasi berhasil memulihkan kembali populasi. Namun kini, mereka kembali dalam bahaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Status penguin kaisar naik dari "Hampir Terancam" (Near Threatened) jadi "Terancam Punah" (Endangered) dalam Daftar Merah IUCN, berdasarkan proyeksi terbaru populasinya akan berkurang setengahnya tahun 2080-an. Data satelit menunjukkan penguin kaisar kehilangan sekitar 10% populasinya antara tahun 2009 dan 2018, sekitar 20.000 ekor penguin dewasa.

Menurut Philip Trathan, anggota IUCN yang merampungkan penilaian Daftar Merah untuk penguin tersebut, aktor utama yang mendorong penurunan populasi adalah hancurnya lapisan es lebih awal dan menyusutnya es laut yang berkaitan dengan perubahan iklim.

ADVERTISEMENT

"Bagi penguin kaisar, es laut adalah habitat utama. Mereka berkembang biak di fast ice. Mereka melakukan pergantian bulu di fast ice atau di atas bongkahan es yang mengapung. Mereka mencari makan di area es laut," paparnya yang dikutip detikiNET dari CNN.

Seiring menyusutnya es laut, habitat mereka ikut menyusut. Hilangnya es laut secara besar-besaran akibat perubahan iklim regional masih menjadi ancaman yang terus berlangsung dan kemungkinan besar akan menurunkan tingkat keberhasilan perkembangbiakan serta kelangsungan hidup penguin dewasa dalam jangka panjang.

Sedangkan untuk anjing laut bulu Antartika, statusnya dinaikkan dari "Risiko Rendah" (Least Concern) menjadi "Terancam Punah" (Endangered) di Daftar Merah IUCN setelah populasinya menyusut lebih dari 50% antara 1999 dan 2025. Penurunan populasi anjing laut tersebut juga dikaitkan dengan perubahan iklim, yang mengurangi ketersediaan kril (sejenis udang kecil), makanan utama mereka.

Seiring meningkatnya suhu permukaan air dekat Antartika, kril bergerak lebih jauh dari lepas pantai dan menuju perairan lebih dalam untuk mencari suhu lebih dingin. "Hal ini membuat kril menjadi jauh lebih sulit dijangkau oleh pemangsa kril yang berbasis di daratan," kata Kovacs.

"Penetapan status baru di Samudra Atlantik Selatan ini mencerminkan perubahan yang telah lebih dulu terjadi di Kutub Utara (Arktik) Atlantik Utara, di mana anjing laut bertudung, anjing laut harpa, dan anjing laut cincin terbukti mengalami penurunan populasi serius," tutur Kovacs.




(fyk/rns)




Hide Ads