Biasanya, kejayaan sebuah peradaban kuno dikaitkan dengan kekuatan militer, perdagangan, atau teknologi. Namun penelitian terbaru menunjukkan hal yang tak terduga, kotoran burung laut ternyata membantu mendorong kemakmuran sebuah kerajaan kuno di Amerika Selatan.
Kerajaan tersebut adalah Chincha Kingdom, masyarakat pesisir yang berkembang di Lembah Chincha, Peru selatan sekitar tahun 1000-1400 M sebelum akhirnya bergabung dengan Kekaisaran Inca pada abad ke-15.
Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS One, masyarakat Chincha diduga memanfaatkan guano, alias kotoran burung laut yang kaya nutrisi, sebagai pupuk untuk meningkatkan hasil pertanian, terutama jagung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Guano merupakan endapan kotoran burung laut yang kaya nitrogen, fosfor, dan kalium. Unsur-unsur tersebut penting bagi pertumbuhan tanaman. Kandungan nutrisi yang tinggi membuatnya menjadi pupuk alami yang sangat efektif.
Di sepanjang pesisir Peru, arus laut Humboldt menciptakan ekosistem yang sangat kaya ikan. Hal ini mendukung populasi besar burung laut seperti pelikan, cormorant, dan booby yang berkumpul di pulau-pulau lepas pantai. Kotoran mereka kemudian menumpuk selama bertahun-tahun menjadi lapisan guano tebal.
Dikutip dari Popular Science, Senin (9/3/2026), para peneliti menemukan bahwa masyarakat Chincha kemungkinan telah menggunakan guano untuk menyuburkan ladang jagung setidaknya sejak sekitar tahun 1250 M.
Bukti dari Analisis Jagung
Untuk meneliti praktik pertanian tersebut, para ilmuwan menganalisis 35 sampel jagung kuno yang ditemukan di makam-makam di Lembah Chincha. Hasil analisis kimia menunjukkan kadar nitrogen yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi alami tanah di wilayah tersebut.
Temuan ini menjadi indikasi kuat bahwa tanaman tersebut dipupuk dengan guano burung laut. Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Jacob Bongers, arkeolog digital dari University of Sydney.
"Komunitas pra-Hispanik di Peru selatan menggunakan guano burung laut untuk menanam jagung setidaknya 800 tahun lalu," kata Bongers.
Ia menjelaskan bahwa pupuk alami tersebut memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi masyarakat setempat.
"Sebagai pupuk yang sangat efektif dan bernilai tinggi, guano memungkinkan masyarakat lokal meningkatkan hasil panen dan memperluas jaringan perdagangan," ujar Bongers.
Peningkatan produksi jagung memberi surplus pangan bagi masyarakat Chincha. Surplus ini kemudian mendukung pertumbuhan populasi, perdagangan, serta kekuatan ekonomi kerajaan tersebut.
Para peneliti juga menilai keberhasilan pertanian berbasis guano berperan dalam memperkuat posisi Chincha di kawasan pesisir Andes sebelum akhirnya bersekutu dengan Kekaisaran Inca.
Dr. Bongers menambahkan bahwa sumber daya sederhana seperti kotoran burung ternyata bisa memiliki dampak besar terhadap perkembangan masyarakat.
"Guano mungkin terlihat sepele, tetapi penelitian kami menunjukkan sumber daya ini dapat berkontribusi besar terhadap perubahan sosial, politik, dan ekonomi di Andes Peru," jelasnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa faktor yang tampak sederhana di alam, bahkan sesuatu yang dianggap menjijikkan seperti kotoran burung, bisa memainkan peran penting dalam membentuk sejarah peradaban manusia.
(rns/hps)