Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Lebih Tua dari Dinosaurus, Misteri Organisme 9 Meter Bingungkan Ilmuwan

Lebih Tua dari Dinosaurus, Misteri Organisme 9 Meter Bingungkan Ilmuwan


Fino Yurio Kristo - detikInet

Organisme misterius
Ilustrasi Prototaxites. Foto: CNN
Jakarta -

Sekitar 400 juta tahun lalu, jauh sebelum dinosaurus atau bahkan pohon berevolusi, sebuah organisme misterius menjulang layaknya monolit prasejarah. Riset baru menunjukkan bentuk kehidupan purba tersebut bukan tanaman, hewan, atau jamur, melainkan mungkin bentuk kehidupan multiseluler yang benar-benar asing dan belum diketahui.

"Apa yang bisa kami katakan, berdasarkan semua analisis baru, adalah organisme ini sangat berbeda dari kelompok modern mana pun yang kita kenal saat ini," ujar Corentin Loron, ahli paleontologi Edinburgh University dan salah satu penulis penelitian yang diterbitkan jurnal Science Advances.

Pertama kali diidentifikasi 160 tahun silam, fosil ini yang dinamai Prototaxites, tingginya sekitar 9 meter dan sulit diklasifikasikan. Abad ke-19, ilmuwan mengira Prototaxites adalah batang pohon konifer yang membusuk. Namun, studi lanjutan mengungkap organisme ini tersusun dari tabung-tabung saling menjalin, bukan sel berbentuk kotak yang menyusun jaringan tanaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ilmuwan lain berpendapat ia adalah massa yang menyerupai lumut kerak, sebuah hubungan simbiosis antara jamur dan alga. Beberapa tahun terakhir, peneliti menduga organisme itu lebih mirip jamur, sebagian karena tampaknya tidak menghasilkan energi melalui fotosintesis.

Riset baru fokus pada tiga fosil Prototaxites yang digali di Rhynie chert, ekosistem prasejarah di dekat Aberdeen, Skotlandia. Ini adalah tempat ditemukannya tanaman, jamur, dan fauna terawal yang paling terawetkan, yang mengolonisasi daratan 400 juta tahun lalu, di periode Devon awal. Situs itu dulunya mata air panas purba seperti Yellowstone.

ADVERTISEMENT

"Kami masih bisa mendapatkan tanda-tanda yang memberi tahu kami tentang komposisi asli fosil-fosil tersebut, artinya fosil itu tidak 'terlalu matang' (rusak karena panas), dan tidak terlalu banyak berubah oleh proses geologi," jelas Loron yang dikutip detikINET dari CNN, Minggu (8/2/2026).

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Analisis baru menunjukkan bahwa biomarker (penanda biologis) dalam fosil Prototaxites secara kimiawi berbeda dari fosil jamur yang ditemukan di situs tersebut dan terawetkan dalam kondisi serupa.

"Jika Prototaxites adalah jamur, kami memperkirakan ia akan mengikuti tren yang sama dengan jamur tersebut karena mereka berada bersebelahan dalam kondisi penguburan yang sama," kata Loron.

Fitur struktural lainnya berbeda dari semua jamur yang diketahui, baik yang masih hidup maupun punah. Berdasarkan hasil ini, tim menyimpulkan bahwa masih terlalu dini untuk memaksakan Prototaxites masuk ke dalam kategori tertentu.

Kevin Boyce, profesor ilmu Bumi di Stanford University sebelumnya mengungkap organisme purba ini tak berfotosintesis seperti tanaman, tapi kemungkinan mengonsumsi sumber karbon di lingkungan, sama seperti beberapa jamur saat ini yang hidup dari materi organik membusuk. "Anda bisa membandingkannya dengan jamur, tapi jamur belum ada pada masa setua itu," sebutnya.

Masih banyak yang tak diketahui tentang Prototaxites. Misalnya, tak jelas bagaimana Prototaxites menempel ke tanah atau apakah organisme tersebut, yang diperkirakan tumbuh lambat, berdiri tegak sepanjang hidup. Tim Laron merencanakan studi lanjutan pada organisme berbentuk tabung yang mirip Prototaxites untuk memperdalam penelitian.




(fyk/hps)




Hide Ads