Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Hewan Bermata Empat Ditemukan, Semuanya Punya Fungsi

Hewan Bermata Empat Ditemukan, Semuanya Punya Fungsi


Aisyah Kamaliah - detikInet

Hewan bermata empat myllokunmingid.
Ilustrasi hewan bermata empat myllokunmingid. Foto: Xiangtong Lei & Sihang Zhang
Jakarta -

Fosil dari salah satu vertebrata tertua menunjukkan mahluk tersebut memiliki empat mata. Hewan tersebut adalah myllokunmingid, berkisar dari 581 juta tahu silam, ditemukan dari China selatan, Chenjiang.

Hewan yang ada pada Periode Cambrian ini terkenal dengan bentuk tubuh yang unik. Ahli paleontologi berpendapat bahwa myllokunmingid awalnya terlihat seperti kecebong dengan dua mata besar di samping kepalanya, tapi ada dua mata yang lebih kecil di depan, bagian tengah-tengah.

"Fosil-fosil ini mengawetkan mata dengan detail yang luar biasa. Kami mulai dengan memeriksa mata besar yang jelas terlihat untuk memahami anatominya -- dan sungguh mengejutkan menemukan dua mata yang lebih kecil dan berfungsi penuh di antaranya. Melihat itu sangat menggembirakan," kata Profesor Peiyun Cong dari Universitas Yunnan dalam sebuah pernyataan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Cong dan rekan penulis berpendapat bahwa pasangan mata bagian dalam myllokunmingid mengalami transformasi aneh untuk menjadi kelenjar pineal. Meskipun kelenjar pineal kita sekarang berada di dalam tubuh, ia masih menyesuaikan produksi melatonin untuk mengontrol tidur berdasarkan paparan cahaya. Sementara pada mamalia kelenjar tersebut telah mengalihkan deteksi cahaya ke sel-sel di retina, pada beberapa kadal kelenjar tersebut masih mampu mendeteksi cahaya.

Ketika orang menyebut kelenjar pineal sebagai 'mata ketiga', omongan mereka ternyata punya 'kebenaran' bagi hewan myllokunmingid.

"Hewan-hewan ini tidak hanya memiliki mata ketiga-mereka memiliki mata keempat," ujar Dr Jakob Vinther dari University of Bristol.

Temuan ini luar biasa karena mata sangat lunak sehingga jarang terawetkan dengan baik. Sebagian besar, para ilmuwan menyimpulkan tentang mata vertebrata purba berdasarkan ukuran dan bentuk rongga mata dan mengekstrapolasi dari rekan-rekan modern.

Namun, sangat jarang mata itu sendiri terawetkan, atau setidaknya jejaknya masih ada.

"(Fosil-fosil ini -- red) membuka jendela langka tentang bagaimana hewan-hewan yang telah punah melihat dan mengalami dunia mereka," ungkap Profesor Emeritus Sarah Gabbott dari University of Leicester.

"Itu adalah dugaan yang berani, tetapi kami menduga mata pada fosil-fosil China ini mungkin terawetkan -- dan memang demikian, lengkap dengan pigmen penyerap cahaya di retina dan lensa yang mampu membentuk gambar, menunjukkan betapa baiknya nenek moyang kita yang paling awal dapat melihat," sambungnya.

Tim tersebut bahkan berhasil mengkonfirmasi sifat bermata empat dari dua spesies myllokunmingid yang berbeda, Haikouichthys ercaicunensis dan spesies lain yang belum diberi nama.

Kesamaan antara komposisi mata bagian dalam dan luar membantu membangun kepercayaan para penulis bahwa organ-organ ini serupa. Bukti lebih lanjut berasal dari keberadaan melanin, pigmen serbaguna yang telah dipertahankan sebagai bagian penting dari penyerapan cahaya dari myllokunmingid.

Myllokunmingid tampaknya tidak memiliki pelindung tubuh. Meskipun kita tidak dapat mengesampingkan pertahanan lain, seperti racun, kemungkinan besar mereka mengandalkan deteksi predator lewat mata-mata mereka.

"Di lingkungan tersebut, memiliki empat mata mungkin memberi hewan-hewan ini bidang pandang yang lebih luas, penting untuk menghindari predator," ucap Vinther.

Studi ini diterbitkan di Nature. Demikian melansir IFLScience.




(ask/asj)




Hide Ads