Bukti geologi terbaru menunjukkan Gurun Gobi di Mongolia yang gersang, dulunya adalah daerah hijau dan dihuni manusia. Sekitar 8.000 hingga 5.000 tahun yang lalu, wilayah yang kini dikenal sebagai gurun pasir ini pernah dipenuhi danau musiman yang mendukung tumbuhan, hewan, dan aktivitas manusia prasejarah.
Studi yang dipublikasikan baru-baru ini menggabungkan data dari sedimen paleolake serta citra satelit dan survei darat untuk mengungkap sejarah perubahan iklim dan penggunaan lahan di kawasan ini.
Dikutip dari Earth, Sabtu (17/1/2026) peneliti menemukan lapisan tanah halus dan lumpur di bekas danau Luulityn Toirom yang menunjukkan periode basah ketika air mengalir dan kolam terbentuk. Analisis sedimen dari lubang bor sedalam sekitar 5 meter menunjukkan bahwa danau paling baru terbentuk sekitar 8.130 tahun lalu, sebelum akhirnya berubah menjadi wilayah kering seperti sekarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Manusia dan Lingkungan
Temuan di situs ini juga mencakup alat-alat batu yang menunjukkan keberadaan manusia yang bermukim sementara di tepi danau saat musim basah. Para arkeolog menemukan ribuan fragmen batu yang dibentuk menjadi alat potong, silet, dan peralatan lain yang tidak berasal dari lokasi setempat, menunjukkan bahwa kelompok manusia membawa bahan baku dari jarak jauh untuk membuat peralatan mereka sendiri.
"Analisis mikroskopis dari bekas jejak pada alat batu menunjukkan aktivitas memburu, memotong daging, dan pemrosesan tumbuhan, memberi gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat kuno di perbatasan danau," kata Grzegorz Michalec, pemimpin studi dan arkeolog dari University of WrocΕaw, Polandia.
Studi ini juga menunjukkan bahwa periode basah di Gobi berkorelasi dengan perubahan iklim Holosen tengah yang membawa curah hujan lebih tinggi. Namun setelah masa itu, kondisi menjadi semakin kering sehingga danau-danau menghilang, memaksa kelompok manusia berpindah untuk mencari sumber air.
Ahli perubahan iklim kontemporer melihat pola ini sebagai contoh bagaimana lanskap bisa berubah drastis dalam jangka waktu relatif singkat dalam sejarah Bumi. Penelitian ini memberi gambaran baru tentang bagaimana lingkungan gurun bukan hanya tempat kering yang tidak ramah, tetapi pernah menjadi wilayah yang cukup subur untuk menopang kehidupan manusia dan hewan ketika kondisi iklim berubah.
(rns/agt)