Meskipun Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dikenal sebagai negeri dengan gurun yang membentang luas, kedua negara ini justru mengimpor pasir dari negara seperti Australia untuk kebutuhan pembangunan. Fenomena ini terlihat ironis, tetapi punya alasan teknis yang kuat.
Pasalnya, pasir yang tersebar di gurun bukanlah jenis yang cocok untuk industri konstruksi modern khususnya bangunan beton, jalan raya, dan mega proyek skala besar yang sedang gencar dibangun di Timur Tengah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasir Gurun Tidak Cocok untuk Konstruksi
Dalam laporan yang dikutip dari Times of India, salah satu alasan utama impor pasir adalah karakteristik pasir gurun yang tidak sesuai dengan kebutuhan bahan bangunan. Gurun membentuk pasir dengan butirannya sangat halus dan bulat karena ditiup angin terus-menerus.
"Gurun yang luas memang menghasilkan pasir, tapi butirannya terlalu halus dan membuatnya tidak bisa menempel kuat dengan semen dalam beton," tulis para ahli konstruksi dalam laporan tersebut.
Pasir yang baik untuk konstruksi harus punya butiran kasar dan bersudut, sehingga ketika dicampur dengan semen dan kerikil dapat menciptakan beton yang padat dan kuat. Butiran yang terlalu halus justru membuat struktur beton menjadi lemah. Jenis pasir berkualitas tinggi seperti ini biasanya ditemukan di dasar sungai, danau, atau pantai, bukan di gurun.
Australia Pemasok Pasir Berkualitas
Australia adalah salah satu negara yang menjadi pemasok utama pasir berkualitas tinggi ke Saudi Arabia dan UEA. Meski berjarak ribuan kilometer jauhnya, negara tersebut mengekspor jenis pasir yang memiliki tekstur dan ukuran butiran ideal untuk beton modern, sehingga sangat dibutuhkan dalam proyek konstruksi besar di kawasan Teluk Arab.
Permintaan akan pasir impor meningkat seiring dengan ambisi pembangunan di kedua kerajaan Teluk tersebut. Untuk diketahui, Arab Saudi mengejar target pembangunan 'Vision 2030' dengan proyek-proyek megastruktur. Sedangkan UEA terus memperluas kota-kota seperti Dubai dan Abu Dhabi dengan gedung pencakar langit dan pulau buatan.
Ironi dan Krisis Pasir Dunia
Fenomena ini adalah contoh dari 'paradoks pasir', negara gurun namun tidak punya pasir yang cocok untuk konstruksi. Kenyataannya, pasir layak bangunan semakin langka di dunia, karena eksploitasi berlebihan, perubahan lingkungan, dan permintaan global yang tinggi.
Kebutuhan untuk pasir berkualitas tinggi menunjukkan bahwa tidak semua pasir sama. Sumber daya yang tampak melimpah sekalipun bisa jadi tidak berguna jika tidak memenuhi standar teknik modern. Hal ini juga mencerminkan tantangan global dalam memenuhi permintaan material konstruksi yang berkelanjutan.
(rns/rns)