Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
700 Ribu Tahun 'Tidur', Gunung Berapi Taftan Kini Bangkit Lagi

700 Ribu Tahun 'Tidur', Gunung Berapi Taftan Kini Bangkit Lagi


Agus Tri Haryanto - detikInet

Gunung Taftan di Iran kembali aktif setelah 700 ribu tahun tertidur.
Gunung Taftan di Iran menunjukkan aktivitasnya lagi. Foto: Earth
Jakarta -

Gunung berapi Taftan di yang berada di sebelah tenggara Iran menunjukkan tanda-tanda aktivitas setelah tertidur selama 700 ribu tahun.

Gunung berapi Taftan adalah stratovolcano setinggi 12.927 kaki (3.940 meter), yaitu gunung berapi curam yang terbentuk dari lapisan lava dan abu. Catatan erupsi gunung selama 10 ribu tahun terakhir terbilang sedikit, namun Taftan disebut sudah sangat lama tidak aktif.

Akan tetapi, berdasarkan pemantauan data satelit terbaru mengungkap bahwa tanah di sekitar puncak gunung tersebut telah mengangkat sekitar 9 sentimeter selama 10 bulan terakhir, sebuah sinyal yang menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah permukaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Studi yang dipublikasikan dalam Geophysical Research Letters yang dipimpin oleh Pablo J. GonzΓ‘lez dari Institut Produk Alami dan Agrobiologi Dewan Riset Nasional Spanyol ini menggunakan radar satelit untuk mengukur perubahan permukaan.

Dalam laporannya disebutkan adanya kenaikan yang terus bertahan ini menjadi bukti bahwa sistem vulkanik Taftan, yang selama ini dianggap tidak aktif dalam sejarah manusia, kini mulai 'terbangun' secara perlahan, meskipun belum jelas apakah tekanan ini berarti akan segera terjadi letusan.

Dikutip dari Earth, Rabu (7/1/2026) menurut peneliti, sumber tekanan kemungkinan berasal dari akumulasi gas di bawah permukaan daripada magma yang naik langsung. Gas ini dapat terperangkap dalam sistem hidrotermal yang berada puluhan meter di bawah tanah, mendorong tanah sehingga mengembang sedikit demi sedikit.

Para ilmuwan memperingatkan meski saat ini belum ada tanda-tanda letusan yang segera terjadi, fenomena semacam ini tetap penting untuk dipantau. Tekanan yang terus meningkat suatu hari nanti pasti akan mencari jalur keluar, bisa melalui letusan eksplosif atau pelepasan lebih tenang, dan penting bagi otoritas setempat untuk memiliki sistem pemantauan yang memadai.

Ahli juga mencatat bahwa risiko jangka pendek bukanlah aliran lava, tapi ledakan freatik, yaitu ledakan uap yang dapat terjadi ketika fluida panas tiba-tiba berubah menjadi uap dekat permukaan. Ledakan semacam itu dapat memicu semburan gas serta partikel yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan di sekitar.

Wilayah yang berada sekitar 50 kilometer dari Taftan, termasuk kota kecil seperti Khash, berada cukup dekat untuk merasakan dampak gas belerang ketika angin bertiup ke arah mereka. Oleh karena itu, para peneliti menekankan bahwa persiapan dini dan pemantauan berkelanjutan sangat penting agar potensi risiko dapat diminimalisir.

Peneliti kini ingin memasang lebih banyak instrumen di lapangan, termasuk alat pengukur gas dan seismometer, sehingga perubahan tekanan atau getaran kecil dapat dideteksi dengan lebih cepat.

Mereka juga akan terus memantau Taftan menggunakan radar satelit untuk mengamati setiap perubahan kecil di permukaan.




(agt/afr)





Hide Ads