Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Uniknya Kepingan Salju, Ada Fakta Ilmiah di Baliknya

Uniknya Kepingan Salju, Ada Fakta Ilmiah di Baliknya


Rachmatunnisa - detikInet

Butiran salju atau es
Foto: Brianna Marble/Unsplash
Jakarta -

Snow flakes atau kepingan salju menjadi salah satu simbol paling ikonik saat Natal. Di balik tampilannya yang magis di suasana Natal, kepingan salju sejatinya adalah hasil kerja presisi hukum fisika dan kimia alam.

Jika dilihat menggunakan mikroskop, kepingan salju memiliki bentuk rumit sekaligus indah, simetris, dan konon tak pernah sama satu dengan yang lain. Keindahan yang terlihat sederhana itu merupakan akumulasi miliaran 'keputusan' kecil yang diambil alam selama kristal es jatuh dari langit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), kepingan salju terbentuk bukan dari air hujan yang membeku, melainkan langsung dari uap air di atmosfer.

"Kepingan salju terbentuk ketika uap air membeku langsung menjadi es tanpa terlebih dahulu menjadi air cair," tulis NOAA seperti dikutip dari situsnya.

ADVERTISEMENT

Kristal es ini mulai terbentuk di awan ketika suhu berada di bawah titik beku. Saat jatuh menuju permukaan Bumi, kristal tersebut terus tumbuh dengan menangkap uap air di sekitarnya.

Pada 1885, Wilson A. Bentley adalah orang pertama yang berhasil memotret kepingan salju. Terpesona oleh arsitektur rumitnya, ia kemudian memotret lebih dari 5.000 kepingan salju.Pada 1885, Wilson A. Bentley adalah orang pertama yang berhasil memotret kepingan salju. Terpesona oleh arsitektur rumitnya, ia kemudian memotret lebih dari 5.000 kepingan salju. Foto: Wilson A. Bentley

Enam Sisi Tapi Tak Pernah Sama

Secara struktur, semua kepingan salju memiliki dasar yang sama, bentuk heksagonal atau bersisi enam. Hal ini terjadi karena cara molekul air (Hβ‚‚O) tersusun saat membeku.

Scientific American menjelaskan bahwa struktur molekul air secara alami menghasilkan sudut 60 derajat saat membentuk kristal es.

"Simetri enam sisi pada kepingan salju berasal dari cara molekul air berikatan saat membeku," tulis Scientific American.

Namun, bentuk akhir kepingan salju sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang dilaluinya, seperti suhu, kelembapan, dan tekanan udara. Perubahan kecil saja dapat mempengaruhi pola pertumbuhan kristal.

"Bentuk akhir kepingan salju mencerminkan perubahan kondisi yang dialaminya saat jatuh melalui atmosfer," Scientific American menjelaskan.

Karena setiap kepingan salju menempuh jalur berbeda di awan, hampir mustahil dua kepingan mengalami kondisi yang benar-benar identik. Inilah alasan ilmiah mengapa tidak ada dua kepingan salju yang persis sama, dan pasti berbeda satu sama lain.




(rns/rns)





Hide Ads