Bapak Ilmu Pemilu Modern Sir David Butler Meninggal di Usia 98 Tahun

Bapak Ilmu Pemilu Modern Sir David Butler Meninggal di Usia 98 Tahun

ADVERTISEMENT

Bapak Ilmu Pemilu Modern Sir David Butler Meninggal di Usia 98 Tahun

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 10 Nov 2022 08:48 WIB
Sir David Butler
Sir David Butler penemu Swingometer di kediamannya di Oxford Inggris pada 2015. Foto: Telegraph
Jakarta -

Sir David Butler, bapak ilmu pemilihan umum (pemilu) modern yang karirnya membentang lebih dari 70 tahun, telah meninggal dunia di usia 98 tahun. Kelahiran 17 October 1924 itu tutup usia pada 8 November 2022.

Teman dan penulis biografi Butler, jurnalis Michael Crick, memberikan penghormatan kepadanya dengan sebutan "bapak psephology", sebuah kata yang dipromosikan Butler di awal karirnya untuk memperkenalkan studi baru ilmu pemilu berdasarkan kata Yunani psephos yang artinya pilih, istilah yang dipakai orang Yunani kuno dalam pemilu.

"Selama beberapa dekade Butler adalah psephologist terkemuka di Inggris dan di seluruh dunia," kata Crick seperti dikutip dari The Guardian.

Sir David ButlerSir David Butler bersiap melakukan siaran Pemilu 1959 di stasiun TV BBC. Foto: Prospect Magazine

Butler sendiri pernah menggambarkan istilah itu sebagai lelucon akademis yang menyeramkan dan konyol. Butler belajar filsafat, politik dan ekonomi di New College, Oxford. Studinya terganggu ketika ia ditugaskan sebagai letnan dalam Perang Dunia II.

Sebagai seorang akademisi, Butler mengadaptasi sebuah persamaan di era Edwardian yang terlupakan terkait aturan kubus untuk karyanya tentang pemilu. Dia menemukan bahwa dirinya mampu memperkirakan jumlah kursi yang dimenangkan dari bagian suara yang disurvei.

Ini memungkinkan dia untuk memperkirakan kursi yang kemungkinan akan dimenangkan oleh dua partai besar berdasarkan jajak pendapat.

"Untuk pemilu 1950, di usianya yang baru 25 tahun, dia adalah analis internal di program hasil pemilu TV pertama BBC, pekerjaan yang dia pertahankan sampai pemilu 1979," kata Crick.

Sir David ButlerSwingometer menunjukkan efek swing atau ayunan dari satu partai ke partai lain. Foto: BBC

Memperkenalkan Swingometer

Dalam perjalanan karirnya, Butler makin dikenal setelah mengembangkan konsep swing (ayunan) untuk menggambarkan persentase pergeseran suara dari satu partai ke partai lain dalam pemilu.

Pada tahun 1955, ia memperkenalkan Swingometer di siaran malam pemilu di stasiun TV BBC. Karir Butler kian moncer di siaran pemilu 1959 BBC, dan telah menjadi sosok yang identik dengan liputan pemilu di seluruh dunia.

Untuk diketahui, Swingometer adalah perangkat grafis yang menunjukkan efek swing atau ayunan dari satu partai ke partai lain pada program hasil pemilu Inggris.

Dalam buku biografinya yang berjudul "Sultan of Swing", Michael Crick menulis bahwa Butler tidak membatasi dirinya hanya pada audiensi kolega akademis. Ia bertekad membuat proses pemilu dapat dimengerti oleh audiensi massa bahkan orang awam sekalipun.

Sir David ButlerSir David Butler (kanan) berfoto bersama tim siaran Pemilu 1974 BBC. Foto: The Guardian

Butler di mata para pengagumnya

Nama-nama besar di bidang politik di Inggris dan Eropa menjadikan Butler sebagai panutannya. Robert Ford, profesor politik di University of Manchester, menyebut Butler sebagai "raksasa penelitian politik".

Anthony Wells, kepala penelitian politik dan sosial Eropa di YouGov UK menggambarkan bahwa berbicara dengan David Butler seperti seorang ahli matematika yang duduk dan berbicara dengan Archimedes, atau seorang fisikawan yang bertemu dengan Newton.

Wartawan BBC Nick Robinson menyebut Butler sebagai "ayah" dari semua pengamat pemilu, analis, akademisi, dan pakar.

Inovasi Butler diakui sejak awal, ketika pada usia 25 sebagai mahasiswa riset di Nuffield College, Oxford, ia diminta untuk berkontribusi pada program hasil pemilu pertama yang disiarkan di BBC.

Saat bekerja di sana, dia dipanggil ke rumah Winston Churchill, pemimpin oposisi saat itu, yang telah membaca artikel yang ditulis Butler di harian Economist dan ingin menanyai akademisi muda itu tentang peluangnya untuk bisa kembali ke Downing Street.

"Mereka makan malam bersama, dan berbincang hampir sepanjang malam. Mereka juga mendengarkan siaran radio pemilu yang mengudara malam itu, dan Butler dimintai pendapatnya untuk membuat keputusan," tulis Crick.

Pada 2017 dia membuat akun Twitter dan berbagi pemikirannya tentang pemilu di tahun itu. "Belajar men-tweet di usia 92 tahun sangat menyenangkan. Tapi pemikiran saya terbatas pada isu pemilu. Jadi saya istirahat dulu, mungkin sampai tahun depan?" tulisnya waktu itu.

Biografi yang ditulis Crick menggambarkan betapa Butler sangat dipandang karena keilmuannya bahkan sejak usia muda. Kini sosok itu sudah pergi. Selamat jalan Butler!



Simak Video "Hembusan Wacana Pemilu Tertutup: Didukung PDIP, Ditolak 8 Parpol Lain"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT