China Temukan Mineral Berharga di Bulan, Bisa Dipakai untuk Matahari Buatan

ADVERTISEMENT

China Temukan Mineral Berharga di Bulan, Bisa Dipakai untuk Matahari Buatan

Rachmatunnisa - detikInet
Minggu, 18 Sep 2022 21:43 WIB
Fenomena Bulan Biru Musiman atau Seasonal Blue Moon di langit Bekasi, Minggu (22/8/2021). Bulan Biru adalah purnama ketiga dari salah satu musim astronomis yang di dalamnya terjadi empat kali bulan purnama. ANTARA FOTO/Paramayuda/wsj.
China Temukan Mineral Berharga di Bulan, Bisa Dipakai untuk Matahari Buatan. Foto: ANTARA FOTO/Paramayuda
Jakarta -

Sebuah materi baru yang ditemukan di Bulan, mendorong China untuk mengumumkan rencana meluncurkan tiga misi tanpa awak dalam 10 tahun ke depan dalam upaya untuk menyaingi kehadiran Amerika Serikat (AS) di Bulan.

Material baru yang ditemukan ini sangat berharga, karena berpotensi menjadi sumber energi masa depan berkat kandungan helium-3 di dalamnya.

Dikutip dari IFL Science, bahan ini bisa menjadi bahan bakar untuk fusi nuklir, sebuah teknologi untuk sumber daya terbarukan yang kerap disebut Matahari buatan. Sampel dari misi Chang'e-5 China menunjukkan, jumlah material ini cukup melimpah untuk diekstraksi dari tanah di Bulan.

Tiga misi pengorbit baru diumumkan China sehari setelah dtemukannya mineral baru dalam sampel yang diambil dari misi Change'e-5 2020. Mineral yang dinamai Changesite-(Y) ini adalah sampel Bulan pertama yang diambil sejak 1976.

Bahannya sendiri adalah mineral kolumnar transparan yang membentuk kristal dengan radius hanya 10 mikron. Apa yang membuat Changesite-(Y) begitu istimewa adalah helium-3 di dalamnya, sebuah isotop penting yang sangat berguna dalam reaksi nuklir.

Reaksi fusi saat ini umumnya menggunakan tritium dan deuterium. Namun material ini menciptakan produk ganda yang sulit ditampung, dan kehilangan energi yang terkait dengan reaksi besar, seringkali melebihi energi yang dapat diekstraksi.

Salah satu solusi untuk masalah ini adalah dengan menggunakan helium-3, sebuah isotop yang merupakan satu-satunya unsur stabil yang memiliki lebih banyak proton daripada neutron.

Ketika mencampur helium-3 dan deuterium bersama-sama, reaksinya akan menciptakan helium dan satu proton, yang jauh lebih mudah ditangani daripada alternatifnya.

Sayangnya, helium-3 sangat langka di Bumi. Jika fusi nuklir menjadi sumber energi yang layak, manusia membutuhkan helium-3 dalam jumlah besar. Dengan demikian, Bulan menjadi target yang menarik untuk ekstraksi helium-3 dalam persiapan sumber energi masa depan.

Menurut Bloomberg, China saat ini telah menerima persetujuan untuk tiga wahana baru yang akan mendarat di Bulan, dengan tujuan akhir menciptakan kehadiran manusia di Bulan secara permanen.

Selain China, AS melalui NASA dan SpaceX juga sedang berusaha meluncurkan Artemis-I ke Bulan. Misi ini akan mengirim beberapa satelit CubeSat dan pesawat ruang angkasa Orion ke orbit Bulan. Sayangnya, masalah mesin dan kebocoran membuat misi ini ditunda hingga akhir September atau awal Oktober 2022.



Simak Video "Tunda Peluncuran ke Bulan, NASA Bahas Kelanjutan Artemis I"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT