Perubahan Iklim Bukan Hoax, Indonesia Jadi Banyak Bencana!

ADVERTISEMENT

Eureka!

Perubahan Iklim Bukan Hoax, Indonesia Jadi Banyak Bencana!

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 09 Agu 2022 18:48 WIB
Es Abadi di Papua
Lapisan Es Abadi di Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya. Foto: Afif Farhan/detikTravel
Jakarta -

Perubahan iklim ada sesuatu yang nyata, bukan hoax. Tak hanya terjadi di luar negeri, Indonesia pun mengalaminya. Tidak percaya? Sudah banyak loh buktinya.

Siswanto M.Sc, Peneliti Cuaca dan Iklim Ekstrem Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG), dalam live Eureka!: Bumi Akhir Zaman, Senin (8/8/2022) memaparkan sejumlah data dan fakta dampak perubahan iklim di Indonesia.

"Kita tertimpa dampaknya, banjir, longsor, kekeringan, puting beliung yang tidak biasa terjadi di suatu lokasi menjadi biasa, siklon tropis yang tidak pernah terjadi di wilayah Indonesia atau jarang terjadi, sekarang sering muncul," ujarnya menjelaskan aneka bencana alam yang ternyata dampak perubahan iklim.

Setidaknya, ada empat bukti Indonesia terdampak perubahan iklim berdasarkan data yang dipaparkan Siswanto. Berikut di bawah ini adalah buktinya.

1. Penyusutan es

Puncak tertinggi di Indonesia, Puncak Jaya di Pegunungan Jayawijaya di Papua, mengalami penyusutan es secara signifikan. Lapisan Es Abadi Jayawijaya bahkan diperkirakan akan hilang.

Salah satu penelitian tim BMKG yang bekerja sama dengan salah satu universitas di Amerika, melakukan ekspedisi untuk memonitoring ketebalan lapisan es yang masih dimiliki Puncak Jaya.

"Kita menyebutnya Lapisan Es Abadi Jayawijaya. Tetapi ternyata dari penelitian tim kami menunjukkan bahwa lapisan es yang kita miliki itu kemungkinan tidak akan abadi lagi, diprediksi di tahun 2020-2030 kemungkinan lapisan es itu akan makin berkurang bahkan habis," kata Siswanto.

2. Gas rumah kaca (GRK) meningkat

Peningkatan karbondioksida, metana, dan nitroksida berkontribusi besar atas terjadinya pemanasan global. Semakin menumpuk GRK di stratosfer kita maka akan semakin meningkat suhu permukaan Bumi.

Menurut Siswanto, sejauh ini tingkat GRK Indonesia memang masih berada di bawah rata-rata tingkat GRK global. Namun Indonesia pernah melampaui angka rata-rata GRK global pada tahun 2013, dan 2015-2016.

"Saat itu CO2 kita menanjak dibandingkan global karena terjadi kebakaran hutan dan lahan. Ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan maka emisi GRK kita, konsentrasi CO2 makin meningkat dan menyebabkan atau berkaitan langsung dengan kejadian pemanasan global di dunia ini," ujarnya.

3. Suhu terus naik

Berdasarkan data, rata-rata suhu Indonesia masih berada di bawah rata-rata suhu secara global. Namun jika dilihat per lokasi, di wilayah seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, dan kota-kota yang padat penduduk atau yang sangat kuat aktivitas urbanisasi maupun urban developmentnya, suhunya sudah melampaui global.

"Jakarta ini suhunya sudah lebih cepat dan lebih kuat 1,4 kali peningkatannya dibandingkan suhu global," Siswanto memberikan contoh.

Sebelum tahun 1950, sebenarnya suhu Indonesia terutama suhu Jakarta, masih berada di bawah rata-rata global maupun rata-rata Indonesia. Namun sejak 1962 hingga sekarang, suhu udara di Jakarta makin meningkat secara signifikan dan dia melampaui rata-rata Indonesia maupun global.

4. Penurunan tanah

Sudah banyak peneliti baik dari Indonesia maupun luar negeri yang mengungkapkan fakta adanya ground sinking atau penurunan tanah. Fakta-fakta ini juga yang memicu ungkapan, "Jakarta akan tenggelam di 2030".

Dalam sebuah studi, ada wilayah-wilayah yang penurunan tanahnya diprediksi sampai -4 meter. Ini memang belum terjadi, melainkan prediksi hingga tahun 2030.

Selain itu, terdapat problem penurunan tanah yang disebabkan oleh faktor mekanis di luar dari persoalan perubahan iklim dan pemanasan global. Hal ini berkaitan dengan kehidupan manusia dan tata kelola perkotaan kita.

"Penurunan tanah ini disebabkan dua hal besar. Pertama, karena pengangkatan atau pengambilan air tanah yang berlebihan. Kedua, akibat tekanan permukaan akibat dibangunnya gedung-gedung tinggi yang ada di wilayah-wilayah dekat pantai sehingga menyebabkan tanah makin mudah turun," kata Siswanto.



Simak Video "Nelayan di Jepang Terdampak Perubahan Iklim, Tangkapan Berkurang"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT