Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Apa Itu Badai Pasir Seperti yang Terjadi di Gaza, dan Mengapa Makin Sering

Apa Itu Badai Pasir Seperti yang Terjadi di Gaza, dan Mengapa Makin Sering


Rachmatunnisa - detikInet

Palestinians walk amid a sandstorm in a tent camp sheltering Palestinians displaced during the two-year Israeli offensive, in Khan Younis in the southern Gaza Strip, March 14, 2026. REUTERS/Ramadan Abed     TPX IMAGES OF THE DAY
Suasana badai pasir di Palestina (Foto: REUTERS/Ramadan Abed)
Jakarta -

Badai pasir besar menerjang Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir, membuat langit berubah menjadi oranye pekat dan mengganggu aktivitas warga. Peristiwa ini memperburuk kondisi masyarakat yang sudah hidup di tengah konflik dan banyak yang tinggal di tenda darurat.

Angin kencang membawa debu tebal yang mengurangi jarak pandang dan berisiko memicu masalah kesehatan, terutama bagi warga yang memiliki penyakit pernapasan. Otoritas setempat bahkan mengimbau masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah atau tempat perlindungan.

Fenomena seperti ini dikenal sebagai sandstorm atau badai pasir. Lalu apa sebenarnya badai pasir, dan mengapa peristiwa ini disebut makin sering terjadi?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa itu badai pasir?

Dikutip dari DW News, Selasa (17/3/2026) badai pasir terjadi ketika angin kencang mengangkat pasir dan debu dari permukaan tanah yang kering ke atmosfer. Partikel-partikel kecil ini kemudian terbawa angin dan membentuk awan debu besar yang dapat bergerak sangat jauh.

Fenomena ini paling sering terjadi di wilayah kering dan semi-kering seperti Afrika Utara, Timur Tengah, serta sebagian Asia. Di daerah-daerah ini, tanah yang gersang dan minim vegetasi membuat pasir mudah terangkat oleh angin.

ADVERTISEMENT

Badai pasir tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga dapat mengganggu transportasi, merusak tanaman, serta membawa partikel debu yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Badai pasir makin sering terjadi

Para ilmuwan mengatakan frekuensi badai pasir meningkat di sejumlah wilayah dunia. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan iklim yang membuat banyak wilayah menjadi lebih kering.

Tanah yang semakin kering dan hilangnya vegetasi membuat lebih banyak debu dan pasir yang bisa terangkat oleh angin. Proses ini juga diperparah oleh desertifikasi atau penggurunan yang terjadi di banyak wilayah.

Menurut laporan organisasi internasional, aktivitas manusia seperti degradasi lahan dan perubahan penggunaan tanah juga turut memperparah fenomena ini. Bahkan sekitar 25% badai debu global diperkirakan berkaitan dengan aktivitas manusia.

Sekretaris Eksekutif Konvensi PBB untuk Memerangi Desertifikasi, Ibrahim Thiaw, menggambarkan badai pasir sebagai salah satu fenomena alam paling mengintimidasi.

"Awan pasir dan debu yang menelan segala sesuatu di jalurnya adalah salah satu pemandangan alam paling menakutkan," kata Thiaw.

Dampaknya bagi manusia

Badai pasir dapat membawa miliaran partikel debu ke udara. Debu ini bisa menyebar hingga ribuan kilometer dari sumbernya dan memengaruhi kualitas udara di berbagai wilayah.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, juga memperingatkan bahwa badai debu dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari iritasi mata hingga penyakit pernapasan.

Dalam kasus Gaza, dampaknya bisa lebih parah karena banyak warga tinggal di kamp pengungsian dengan perlindungan terbatas. Tenda-tenda mudah tertiup angin dan udara penuh debu meningkatkan risiko penyakit pernapasan.

Fenomena badai pasir sendiri diperkirakan akan terus terjadi di masa depan, terutama di wilayah yang semakin kering akibat perubahan iklim. Para ilmuwan memperingatkan bahwa tanpa pengelolaan lahan yang lebih baik, badai debu bisa menjadi masalah lingkungan dan kesehatan global yang semakin serius.




(rns/fay)






Hide Ads