Harga minyak melonjak semenjak Amerika Serikat mengklaim telah menyerang pusat minyak Pulau Kharg di Iran. Donald Trump menuntut sekutu untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.
Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik 1,8% menjadi USD 104,98 per barel (Rp 1,7 juta) selama perdagangan awal pada hari Senin. Akhir pekan yang diwarnai kekerasan di Timur Tengah semakin memperburuk kekhawatiran atas konflik tersebut dan dampaknya terhadap pasar energi global.
Presiden AS pada hari Sabtu mengaku serangannya telah menghancurkan sepenuhnya sebagian besar Pulau Kharg. Trump mengatakan kepada NBC News militer AS mungkin akan menyerang lokasi tersebut 'beberapa kali lagi hanya untuk bersenang-senang'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, sebelumnya Trump menuturkan di media sosial bahwa dia telah menghindari menyerang infrastruktur minyak dan energi di pulau itu karena alasan kesopanan, dan bahwa hanya target militer yang telah dihantam.
"Senjata kita adalah yang paling ampuh dan canggih yang pernah dikenal dunia, tetapi, karena alasan kesopanan, saya memilih untuk TIDAK menghancurkan infrastruktur minyak di pulau itu," ucapnya dua hari lalu.
Kharg, sebuah pulau karang seluas 22 km persegi, merupakan pusat pengolahan utama bagi Iran. Kharg menjadi tempat 90% ekspor minyak negara itu biasanya mengalir, dikutip detikINET dari The Guardian, Senin (16/3/2026).
Selat Hormuz, salah satu jalur air terpenting di dunia, yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak internasional. Selat ini hampir sepenuhnya ditutup sejak awal krisis.
Trump mengklaim akhir pekan ini bahwa banyak negara akan mengirim kapal untuk membantu membuka kembali selat tersebut. Ia tidak menyebutkan negara mana yang akan melakukannya, tetapi secara terbuka mendesak sekutu AS seperti Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk bergabung dalam 'tim' untuk melindungi kapal yang melewati selat tersebut dari serangan Iran.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengatakan pihaknya sedang menjajaki berbagai langkah dari berbagai sudut pandang untuk membantu mengamankan jalur transportasi energi. Menteri-menteri Inggris sedang menyusun rencana untuk mengirim drone penyapu ranjau ke selat tersebut, di tengah kekhawatiran bahwa memenuhi permintaan Trump untuk mengirim kapal dapat memperburuk krisis.
Harga minyak menembus angka USD 100 per barel pekan lalu untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina empat tahun lalu. Frustrasi telah meningkat dalam beberapa hari terakhir karena biaya bahan bakar terus naik di seluruh dunia.
Trump, di sisi lain, mencoba untuk mengecilkan risiko harga bahan bakar tetap tinggi dalam jangka waktu yang lama.
"Saya pikir harganya akan lebih rendah dari sebelumnya," katanya kepada NBC.
"Ada begitu banyak minyak, gas. Ada begitu banyak di luar sana tapi Anda tahu, itu sedikit tersumbat. Itu akan segera teratasi," akunya.
Negara-negara di seluruh Asia telah berupaya keras untuk mengatasi krisis energi, mulai dari subsidi bahan bakar di Thailand hingga penjatahan di Bangladesh.
(ask/fay)

