Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ditinggal Rudal Canggih AS, Korsel Bisa Jadi Sasaran Empuk Korut?

Ditinggal Rudal Canggih AS, Korsel Bisa Jadi Sasaran Empuk Korut?


Fino Yurio Kristo - detikInet

THAAD
Sistem THAAD ketika beraksi. Foto: U.S. Department of Defense/Ralph Scott
Jakarta -

Amerika Serikat dilaporkan merelokasi sebagian dari sistem pertahanan rudal canggih Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) miliknya dari Korea Selatan ke Timur Tengah karena perang Iran. Apakah hal ini akan membuat Korsel lebih rentan diserang Korut?

Pemindahan THAAD dari Korea menunjukkan AS kewalahan dalam sistem pertahanan rudal akibat serangan balasan Iran dan meluasnya konflik Timur Tengah. Satu sistem baterai THAAD terdiri dari radar, pusat kendali taktis, enam peluncur, dan 48 rudal pencegat. Masih belum dipastikan berapa bagian dari satu baterai yang telah dipindahkan.

Presiden Lee Jae Myung mengakui ada pemindahan itu dan Seoul menyampaikan kekhawatirannya ke AS. "Kami telah menyatakan penolakan terhadap penarikan aset pertahanan udara tertentu, namun ini juga sebuah kenyataan bahwa posisi kita tak bisa selalu diakomodasi sepenuhnya di tiap situasi," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun demikian, ia menambahkan pergeseran tersebut takkan secara signifikan melemahkan daya tangkal terhadap Korut. "Jika Anda bertanya apakah strategi daya tangkal kita terhadap Korea Utara akan sangat terpengaruh, saya bisa pastikan bahwa itu tidak akan terjadi," ujar Lee.

Namun, kekhawatiran meningkat bahwa pertahanan udara Korsel jadi rentan. Dikutip detikINET dari Korea Times, Selasa (17/3/2026) berbeda dengan sistem Patriot yang sebagian dapat digantikan oleh Korsel dengan aset pertahanan udaranya sendiri, THAAD sama sekali tidak memiliki alternatif domestik yang sebanding.

ADVERTISEMENT

Jika THAAD sungguh direlokasi, maka dapat menciptakan celah pertahanan udara Korsel. Pemerintah Korsel yang didukung Washington, bersikeras THAAD adalah cara terefektif untuk menemukan dan menghancurkan rudal Korut sebelum mengancam Korsel dan 28.500 tentara AS yang ditempatkan di sana. THAAD pun ditempatkan di Korsel sejak 2017.

Namun kini, AS dilaporkan mulai memindahkan sebagian sistem tersebut, bersama dengan perangkat militer lainnya untuk digunakan dalam perang melawan Iran. Tindakan ini memicu keraguan atas komitmen Donald Trump terhadap Korsel, sekutu Asia Timur terpenting AS bersama Jepang dan peringatan bahwa Korut yang bersenjata nuklir dapat mengambil kesempatan.

Korsel memang dapat menggantikan baterai Patriot dengan sistem Cheongung-II buatan dalam negeri untuk pencegatan ketinggian rendah dan menengah. Namun, untuk pertahanan rudal ketinggian tinggi (di atas sekitar 100 km), negara ini sepenuhnya bergantung pada THAAD yang dapat mencegat rudal balistik setinggi antara 40 km hingga 150 km.

Rudal pencegat ketinggian tinggi yang baru saja dikembangkan Korsel, L-SAM, dijadwalkan baru mulai dioperasikan tahun depan. Maka ada kekhawatiran bahwa celah keamanan dapat melebar jika krisis di Timur Tengah terus berlarut-larut.

Beberapa pengamat melihat adanya kemungkinan bahwa aset AS dapat lebih sering ditarik keluar di masa depan. Walaupun penarikan permanen dari Korea memerlukan negosiasi antara Korea dan AS, relokasi sementara dari beberapa aset dapat dilakukan hanya dengan pemberitahuan sepihak.

Di sisi lain, beberapa pihak juga memandangnya sebagai demonstrasi AS terhadap kebijakan fleksibilitas di mana aset-aset yang ditempatkan di wilayah lain juga dapat dikerahkan ke Semenanjung Korea kapan pun dibutuhkan.

"Penempatan ulang ini mengirimkan pesan bermakna, bahwa kemampuan militer di Semenanjung Korea dapat diperkuat sewaktu-waktu jika terjadi krisis," pungkas Shin Beom-chul, seorang peneliti senior di Sejong Institute.




(fyk/fay)








Hide Ads