Kutub Utara-Selatan Dihajar Panas, Bumi Bisa Kelelep

ADVERTISEMENT

Kutub Utara-Selatan Dihajar Panas, Bumi Bisa Kelelep

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 24 Mar 2022 05:46 WIB
Awak kapal selam Amerika Serikat di Kutub Utara
Kutub Utara. Foto: US Navy
Jakarta -

Gelombang panas terpantau menerpa Kutub Utara dan Kutub Selatan Bumi. Kondisi tersebut membuat para ilmuwan cemas terkait perubahan iklim.

Seperti dikutip detikINET dari Guardian, Kamis (24/3/2022) temperatur di Antartika tercatat telah mencapai rekor suhu belum lama ini, bahkan lebih tinggi 40 derajat Celcius di beberapa lokasi.

Di saat yang sama, stasiun cuaca yang berada dekat dengan Kutub Utara, mencatat adanya pencairan es. Suhu di sana sebagian ada yang lebih dari 30 derajat Celcius di atas temperatur normal.

Padahal pada saat-saat sekarang, seharusnya wilayah Antartika cepat mendingin setelah mengalami musim panas. Adapun Arktik baru saja mengalami musim dingin. Dengan demikian, suhu tinggi yang terjadi dinilai mencemaskan.

Temperatur tinggi di kutub itu disebut sebagai peringatan akan adanya gangguan di sistem iklim Bumi. Dalam pertemuan Panel of Climate Change tahun silam, tanda-tanda penghangatan kutub sudah muncul dan mungkin tidak bisa dipulihkan. Maka, es akan cepat mencair dan membuat permukaan air laut meninggi. Dampaknya, sebagian wilayah Bumi yang ada di tepi laut bisa tenggelam.

Belum lagi pada saat kutub mencair, terutama di Arktik, maka akan muncul lautan gelap yang akan menyerap lebih banyak panas daripada es. Ini menyebabkan Bumi bisa menjadi lebih panas lagi.

"Pemanasan di Kutub Utara dan Kutub Selatan ini mencemaskan. demikian pula peristiwa cuaca ekstrem. Kejadian ini menunjukkan perlunya segera dilakukan aksi," kata Michael Mann, direktur Earth System Science Centre di Pennsylvania State University.

"Saya dan kolega terkejut dengan banyaknya kejadian cuaca ekstrem di tahun 2021. Sekarang, suhu di Kutub mengukir rekor yang bagi saya, menunjukkan bahwa kita memasuki fase ekstrem baru dalam perubahan iklim, jauh lebih awal dari perkiraan kami," cetus Mark Maslin, profesor di University College London.

Simak juga 'Wawancara Khusus Kepala BMKG: Tantangan Indonesia Hadapi Perubahan Iklim':

[Gambas:Video 20detik]



(fyk/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT