Merasa Lihat Wajah Pria atau Wanita di Suatu Benda, Anda Tidak Gila

Merasa Lihat Wajah Pria atau Wanita di Suatu Benda, Anda Tidak Gila

ADVERTISEMENT

Merasa Lihat Wajah Pria atau Wanita di Suatu Benda, Anda Tidak Gila

Aisyah Kamaliah - detikInet
Kamis, 03 Feb 2022 14:56 WIB
Foto Fenomena Pareidolia
Kamu Lebih Sering Lihat Wajah Pria atau Wanita di Suatu Benda? Foto: Bored Panda
Jakarta -

Ketika terjadi fenomena pareidolia, seseorang bisa melihat suatu objek dengan hal lain yang menyerupainya. Contohnya, busa pada kopi yang nampak seperti senyuman, awan yang mirip kelinci, dan kejadian lainnya yang acak terjadi.

Tapi ada yang unik, sebuah studi mengungkap wajah ilusi atau pareidolia memicu persepsi lebih dari sekadar melihat wajah. Orang-orang juga bisa menentukan usia, ekspresi emosional, dan jenis kelamin pada mereka.

Diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, penulis penelitian menyimpulkan bahwa wajah bukan manusia membutuhkan detail feminin yang lebih untuk dianggap sebagai perempuan. Misalnya, sebuah permen yang bergambar hanya dengan mata dan senyuman biasanya diidentifikasi orang-orang sebagai laki-laki.

Hasil ini berasal dari eksperimen perilaku skala besar, lebih dari 3.800 orang dewasa dari Amerika Serikat, untuk mengidentifikasi jenis kelamin yang diperkirakan dari wajah ilusi. Tanggapan mereka menunjukkan bahwa orang secara signifikan lebih cenderung menganggap benda mati dengan wajah ilusi sebagai laki-laki daripada perempuan. Mereka juga condong menganggap objek berusia muda, bahagia, dan laki-laki.

"Secara kolektif, ini menunjukkan bahwa wajah ilusi memiliki ekspresi emosional, usia, dan jenis kelamin yang berbeda," tulis penulis penelitian.

"Pengamatan kami yang paling mencolok adalah bias yang kuat untuk melihat wajah ilusi sebagai laki-laki daripada perempuan, bahkan ketika pilihan netral tersedia. Jika bias ini kuat dan dapat diandalkan di seluruh pengamat, ini memiliki implikasi penting untuk memahami bagaimana persepsi seks diproses di otak manusia, terutama mengingat bahwa rangsangan ini tidak memiliki jenis kelamin biologis," lanjutnya.

Temuan ini tentu saja memiliki keterbatasan dan dibangun dari eksperimen (walaupun dalam skala besar). Terlebih, ini hanya menggunakan peserta dari AS. Default atau bias mungkin berbeda di lokasi atau budaya lain.

Jadi mengapa itu bisa terjadi? Jawaban pastinya masih belum jelas tetapi penulis utama Susan Wardle menyoroti contoh emoji dan Lego sebagai bukti bias serupa dalam kehidupan kita sehari-hari. Sering terjadi di kedua contoh itu bahwa karakternya dianggap sebagai laki-laki kecuali beberapa bulu mata, bibir yang lebih besar, riasan, atau fitur feminin lainnya dimasukkan ke dalam persamaan.



Simak Video "Mengapa Orang India Banyak yang Jadi Bos Teknologi? Ini Alasannya..."
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT