10 Virus dan Bakteri yang Dipakai Senjata Biologis Mematikan

10 Virus dan Bakteri yang Dipakai Senjata Biologis Mematikan

Rachmatunnisa - detikInet
Jumat, 17 Sep 2021 06:41 WIB
virus dan bakteri
Ilustrasi virus dan bakteri. Foto: NIAID via Weather.com
Jakarta -

Bukan hanya senjata fisik yang digunakan dalam sebuah pertempuran, ada juga senjata biologis yang tak kalah mematikan. Kebencian dan keserakahan mendorong manusia memperbarui teknologi dan strategi berperang mereka dengan senjata biologis ini.

Senjata biologis adalah senjata yang memanfaatkan bakteri, virus atau organisme yang mampu menghasilkan penyakit, dengan tujuan untuk melumpuhkan, melukai, bahkan membunuh musuh.

Ada beberapa senjata biologis ekstrem karena penggunaannya sangat mematikan. Berikut ini 10 virus atau bakteri yang diubah menjadi senjata biologis mematikan, dikutip dari TopTenz.

1. Anthrax

Bacillus Anthracis, bakteri penyebab Anthrax, merupakan salah satu agen bio paling mematikan dan dimanfaatkan untuk senjata biologi. Anthrax diperkirakan telah digunakan sebagai senjata biologi selama sekitar satu abad lalu.

Tak hanya mematikan, Anthrax bisa dibilang adalah salah satu senjata yang sangat mengerikan serta fleksibel karena tak terlihat, menular, serta tidak berbau. Bahkan, Anthrax dalam wujud bubuk pernah dikirim dengan sengaja lewat sistem pos di AS pada 2001. Dari 22 orang yang terinfeksi, tujuh orang merupakan pekerja pos, dan total lima orang meninggal akibat serangan itu.

Korban Anthrax dapat mengalami gangguan kulit terasa melepuh dan gatal, pembengkakan di sekitar kulit yang melepuh, termasuk rasa tidak nyaman di dada, demam, menggigil, pusing, batuk, mual, muntah, sakit perut, sakit kepala, kelelahan ekstrem, dan nyeri pada seluruh tubuh.

2. Botulisme

Botulisme merupakan salah satu racun paling mematikan di dunia. Racun Botulisme menjadi salah satu senjata biologis yang relatif mudah diproduksi, karena bakteri dari racun ini bisa didapatkan secara alami di tanah hutan, sedimen dasar danau dan sungai, serta saluran usus dari beberapa ikan maupun hewan.

Hanya dengan 1 gram racun Botulisme bisa menewaskan 1 juta orang yang menghirupnya. Botulisme pernah digunakan kelompok Jepang untuk menginfeksi tahanan perang mereka.

Gejala Botulisme bisa sangat parah. Otot-otot di wajah akan menjadi lumpuh, dan jika tidak ditangani, kelumpuhan itu dapat menyebar ke seluruh tubuh bahkan mematikan otot-otot yang digunakan untuk bernapas.

3. Variola (cacar)

Dikenal juga dengan sebutan "wabah merah", Variola atau cacar adalah penyakit yang sangat menular yang menyebabkan demam tinggi, sakit kepala dan tubuh, ruam yang parah, dan bintil yang menutupi sebagian besar tubuh.

Ada dua laboratorium di dunia yang memiliki akses langsung ke penyakit tersebut untuk tujuan penelitian, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, dan Center for Virology and Biotechnology Research Rusia.

WHO khawatir suatu negara atau organisasi teroris dapat menggunakan penyakit tersebut sebagai senjata biologis di masa depan. Pada tahun 1980, pemerintah Uni Soviet mengembangkan virus cacar dalam jumlah besar yang disimpan dalam tangki berpendingin untuk digunakan sebagai agen senjata biologis.

Ancaman penggunaan cacar sebagai senjata biologis menurun ketika WHO meluncurkan program imunisasi global yang sukses melawan cacar tahun 1967. Meski demikian, vaksinasi tidak menghasilkan kekebalan seumur hidup dari penyakit tersebut.

4. Q Fever

Q Fever adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Coxiella burnetii. Bakteri ini muncul secara alami dan menginfeksi hewan seperti domba, sapi, dan kambing, menyebabkan produk sampingannya (susu, feses, dan bahkan plasenta) terkontaminasi. Kebanyakan orang yang menelan Coxiella burnetii tidak menunjukkan gejala, tetapi gejalanya biasanya mirip flu.

Meski pasien terinfeksi Fever Q tidak terlalu menular, AS dan Uni Soviet mengembangkan versi senjata dari bakteri ini dalam jumlah besar. Varietas yang dipersenjatai dibuat sangat mudah menular, dan percobaan pada manusia terbukti sangat berhasil karena semua orang yang secara sukarela terinfeksi penyakit tersebut memperlihatkan gejala. Pengujian Fever Q berlangsung selama dua dekade di AS.

Pada tahun 2006, CDC AS membatasi penelitian yang dilakukan di fasilitas A&M Texas setelah ditemukan tiga peneliti tertular penyakit tersebut dan tidak melaporkannya ke CDC sesuai yang ditentukan oleh hukum. Adapun informasi tersebut diperoleh dari pengawas biosafety melalui Freedom of Information Act. Untuk diketahui, varian Fever Q yang dipersenjatai dapat diobati dengan antibiotik.

5. Tularemia

Bakteri Francisella tularensis penyebab Tularemia atau demam kelinci, memiliki kemampuan menginfeksi yang ekstrem, mudah menyebar, hingga bisa menyebabkan kematian.

Orang yang terkena Francisella tularensis mengalami gejala ulkus kulit, demam, batuk, muntah, dan diare. Dr. Kenneth Alibek, mantan ilmuwan yang terlibat dalam program senjata biologis Uni Soviet, mengungkapkan penggunaan tularensis oleh tentara Uni Soviet melawan pasukan Jerman dalam pertempuran Stalingrad selama Perang Dunia II.

Bakteri yang diklasifikasikan sebagai agen Kategori A itu telah dipelajari oleh unit penelitian perang Jepang dan beberapa kekuatan militer negara-negara Barat untuk keperluan militer.

Selanjutnya: Bunyavirus hingga Ebola