Canggih Tapi Ngeri, Drone Pembunuh Bisa Menyerang Otomatis

Canggih Tapi Ngeri, Drone Pembunuh Bisa Menyerang Otomatis

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 02 Jun 2021 06:17 WIB
drone
Drone Kargu-2 dilaporkan bisa menyerang secara otomatis. Foto: STM
Jakarta -

Drone jadi salah satu senjata andalan di medan perang selama bertahun-tahun. Berbeda dengan dulu ketika drone masih membutuhkan pilot manusia yang mengendalikannya, zaman sekarang drone bisa menyerang secara otomatis.

Makin canggih, tapi mengerikan. Bukti kecanggihan tersebut tercatat dalam laporan PBB yang merinci sebuah insiden pada tahun 2020. Dikutip dari Metro, tahun lalu sekelompok pemberontak Libya diserang oleh pesawat tak berawak yang bertindak secara otonom.

Laporan PBB itu melaporkan kemunculan kendaraan udara tempur tak berawak dan sistem senjata otonom mematikan. Drone ini menyerang pemberontak tanpa masukan atau perintah dari operator manusia.

Jika benar, insiden ini menandai pertama kalinya mesin bertindak sendiri untuk menargetkan manusia. Tak ada kematian yang dilaporkan, namun pesawat tak berawak tersebut sarat dengan bahan peledak dan mampu menyebabkan korban yang signifikan.

Menurut laporan Maret dari Panel Ahli Dewan Keamanan PBB di Libya, quadcopters Kargu-2 dikerahkan di negara Afrika Utara tersebut pada Maret 2020.

Insiden itu terjadi selama pertempuran antara pemerintah Libya dan pasukan yang setia kepada Khalifa Haftar, komandan faksi yang memisahkan diri dari tentara nasional Libya.

Drone Kargu-2 dapat diterbangkan oleh operator manusia atau mereka dapat menggunakan kamera on-board dan kecerdasan buatan untuk mencari target secara mandiri. Ketika sudah cukup dekat, drone kemudian meledak saat terkena pemicu.

Menurut laporan itu, pasukan Haftar mundur dari Tripoli ketika mereka diburu dan terlibat dari jarak jauh oleh drone Kargu-2. Begitu mundur, mereka terus menerus menjadi sasaran drone dan sistem senjata otonom yang mematikan tersebut. Adapun drone diprogram untuk menyerang target tanpa memerlukan konektivitas data antara operator dan amunisi.

Pada akhir tahun 2020, Kepala Angkatan Bersenjata Inggris Jenderal Sir Nick Carter memprediksi bahwa pada tahun 2030-an, tentara Inggris bisa memiliki 30.000 tentara robot.

Dia memperkirakan bahwa angkatan bersenjata yang dirancang untuk tahun 2030-an dapat mencakup hal-hal seperti mesin otonom atau yang dikendalikan dari jarak jauh yang mampu berperang bersama manusia.

"Saya meyakini kita bisa memiliki pasukan sebanyak 120.000, di mana 30.000 di antaranya mungkin robot, siapa yang tahu?," ujarnya.

Dikatakannya, modernisasi pada dasarnya berarti akan menggantikan beberapa kemampuan. Sejauh ini, kebijakan Kementerian Pertahanan Inggris adalah bahwa hanya manusia yang dapat menembakkan senjata.

Namun Angkatan Darat Inggris sendiri telah berupaya melakukan perekrutan selama beberapa tahun dan mungkin saja dalam beberapa dekade mendatang, teknologi diperlukan untuk menutup celah yang ditinggalkan oleh tentara manusia. Jadi di masa depan, kita mungkin akan mendengar lebih banyak tentang insiden drone atau mesin yang menyerang orang tanpa pengawasan manusia.



Simak Video "Drone Serang Pangkalan Udara India di Kashmir"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/afr)