Iran telah mulai memasang ranjau laut di Selat Hormuz, jalur sempit strategis energi terpenting dunia yang mengangkut sekitar seperlima dari seluruh pasokan minyak mentah. Informasi itu dibocorkan dua sumber yang mengetahui laporan intelijen AS terkait masalah tersebut.
Pemasangan ranjau ini memang belum terlalu masif, dengan hanya beberapa lusin ranjau ditebar beberapa hari terakhir, ungkap sumber. Namun, Iran masih punya banyak kapal kecil dan armada penebar ranjau, sehingga memungkinkan menebar ratusan ranjau di sana.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, yang kini mengendalikan selat tersebut bersama angkatan laut, dilaporkan bisa mengerahkan kapal penebar ranjau yang tersebar luas serta kapal bermuatan bahan peledak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut di Truth Social bahwa "jika Iran memasang ranjau di Selat Hormuz dan kami belum menerima laporan tentang hal itu, kami ingin ranjau-ranjau itu disingkirkan, SEGERA!" Ia menambahkan jika ranjau benar-benar dipasang, Iran akan menghadapi konsekuensi besar.
Menyusul unggahan Trump, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut Komando Pusat AS telah melenyapkan kapal-kapal penebar ranjau yang tidak aktif di Selat Hormuz. "Kami tidak akan membiarkan teroris menyandera Selat Hormuz," sebutnya.
Dikutip detikINET dari CNN, Komando Pusat AS mengklaim militer telah menghancurkan sejumlah kapal angkatan laut Iran, termasuk 16 kapal penebar ranjau, di dekat Selat Hormuz.
IRGC sebelumnya memperingatkan tiap kapal yang melewati Hormuz akan diserang. Kondisi selat digambarkan sebagai "lembah kematian" mengingat besarnya risiko yang dihadapi kapal saat melintas.
Ranjau laut
Ranjau laut adalah salah satu teknologi senjata yang sudah lama digunakan sebagai perangkat peledak mandiri yang ditempatkan di dalam air, untuk menghancurkan kapal selam dan kapal permukaan.
Penggunaan ranjau laut berawal dari masa Revolusi Amerika ketika David Bushnell, mahasiswa Yale, menemukan bubuk mesiu dapat diledakkan di bawah air. Di 1777, sebagian armada Inggris disiagakan di Sungai Delaware. Jenderal George Washington mengizinkan Bushnell mencoba menghancurkan beberapa dari kapal menggunakan ranjau laut yang ia ciptakan.
Ranjau terdiri dari muatan mesiu dalam sebuah tong, ditopang pelampung di permukaan air. Dalam tong dipasang pelatuk senapan sedemikian rupa, sehingga benturan ringan saja akan melepaskan palu pelatuk dan meledakkan mesiu. Meskipungagal merusak kapal Inggris mana pun, penemuan ini memicu antusiasme yang luar biasa di kalangan Amerika maupun pihak Inggris.
Selama Perang Saudara Amerika, pihak Konfederasi menggunakan ranjau laut yang menenggelamkan cukup banyak kapal. Perang Dunia I, ranjau laut membatasi gerak kapal selam Jerman agar tetap di Laut Utara. Perang Dunia II, ranjau laut melumpuhkan ekonomi Jepang. Pesawat AS menebar lebih dari 12.000 ranjau di rute pelayaran dan jalur masuk pelabuhan Jepang, menenggelamkan sekitar 650 kapal.
Terdapat tiga jenis ranjau laut. Ranjau hanyut ditempatkan di air dan bergerak mengikuti arus. Ranjau tambat bebas bergerak, tapi dibatasi dalam radius yang diizinkan oleh tali dan jangkar yang terpasang pada ranjau tersebut. Ranjau dasar dirancang agar tidak bergerak sama sekali.
Ranjau juga dibedakan berdasarkan cara penyebarannya. Pada masa awal, sebagian besar ranjau dilepaskan dari kapal permukaan. Mulai Perang Dunia I, kapal selam mulai menebarkan ranjau, dan Perang Dunia II, ganti pesawat terbang yang menebarkan dalam jumlah besar.
Ranjau laut berbeda dalam cara ledakannya. Ranjau kontak memerlukan sentuhan fisik dari kapal agar bisa meledak. Ranjau pengaruh diledakkan oleh kehadiran sebuah kapal, baik melalui pemicu magnetik, akustik, maupun tekanan. Ranjau kendali diledakkan dari stasiun di darat untuk ofensif maupun defensif.