Seekor anak penyu dengan dua kepala ditemukan di Cape Cod, Massachusetts, Amerika Serikat. Kondisi langka tersebut bukan karena dua penyu menyatu setelah menetas, melainkan akibat kelainan perkembangan embrio yang dikenal sebagai bicephaly.
Penyu kecil tersebut merupakan diamondback terrapin (Malaclemys terrapin). Bobotnya hanya sekitar 5,2 gram. Anak penyu itu ditemukan relawan Mass Audubon Wellfleet Bay Wildlife Sanctuary di sebuah lokasi peneluran yang dilindungi di Wellfleet pada September 2026.
Pada 17 September, hewan tersebut dibawa ke Cape Wildlife Center di Barnstable untuk mendapatkan perawatan dan pemantauan. Kondisi dua kepala yang dialaminya disebut bicephaly, yaitu keadaan ketika satu embrio berkembang dengan dua kepala yang terpisah, tetapi tetap berbagi satu tubuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Zak Mertz, CEO New England Wildlife Centers, bicephaly biasanya terjadi ketika embrio yang awalnya berkembang menuju pembentukan kembar identik tidak sepenuhnya terpisah.
Akibatnya, dua bagian embrio terus berkembang tetapi tetap terhubung pada satu tubuh. Kondisi tersebut dapat menghasilkan hewan dengan dua kepala dan tingkat penggabungan organ internal yang berbeda-beda.
"Berdasarkan penelitian yang ada, pemahaman kami adalah bahwa bicephaly disebabkan oleh faktor genetik dan epigenetik," ujarnya seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (6/10/2026).
Mertz mengatakan faktor lingkungan juga kemungkinan berperan dalam proses tersebut. Beberapa faktor yang dipertimbangkan antara lain suhu dan kelembapan selama inkubasi, karakteristik lokasi sarang, hingga kemungkinan paparan lingkungan yang dialami induknya.
Namun, penyebab pasti bicephaly pada penyu ini belum dapat dipastikan. Meski sangat jarang, penyu dengan dua kepala bukan fenomena yang sama sekali belum pernah ditemukan.
Cape Wildlife Center menyebut anak penyu yang baru ditemukan ini merupakan kasus bicephaly ketiga pada diamondback terrapin yang mereka tangani dalam lima tahun terakhir. Mass Audubon Wellfleet Bay Wildlife Sanctuary bahkan telah menemukan lima terrapin dengan kondisi dua kepala di Cape Cod sejak awal 2000-an.
Setiap kasus memberikan kesempatan bagi peneliti dan dokter hewan untuk mempelajari bagaimana dua kepala dapat berfungsi pada satu tubuh.
"Ini sangat menarik dan merupakan bidang yang tentu layak untuk diteliti lebih lanjut. Kami senang merawat keduanya dan mempelajari sebanyak mungkin untuk membantu penelitian di masa depan," paparnya.
Salah satu pertanyaan terbesar dalam kasus ini adalah bagaimana kedua kepala tersebut dapat mengendalikan tubuh yang sama. Tim dokter hewan kini mengamati nafsu makan, pertumbuhan, perilaku, serta koordinasi kedua kepala dengan tubuhnya. Sejauh pemantauan awal, kondisi anak penyu tersebut cukup menjanjikan.
Penyu kecil itu dilaporkan mampu berenang, makan, dan menggerakkan seluruh kakinya. Kedua kepalanya juga menunjukkan respons terhadap lingkungan. Namun, kondisi tersebut belum berarti anak penyu akan mampu bertahan hidup dalam jangka panjang.
Dua kepala pada satu tubuh dapat menyebabkan masalah koordinasi, termasuk ketika hewan harus bergerak, mencari makanan, atau melakukan aktivitas lain untuk bertahan hidup. Bicephaly juga menarik perhatian ilmuwan karena kelainan perkembangan semacam ini dapat memberikan informasi mengenai kondisi populasi dan lingkungan tempat hewan berkembang.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2021 mengenai embrio dan tukik penyu laut dengan kondisi dua kepala atau duplikasi sebagian tubuh menemukan adanya kelainan pada struktur kepala dan tulang belakang.
Hewan dengan kondisi tersebut juga cenderung berukuran lebih kecil dibandingkan tukik normal. Para peneliti menilai kelainan perkembangan dapat menjadi salah satu hal yang perlu dipantau dalam penelitian mengenai kesehatan populasi penyu.
Namun, menemukan satu atau beberapa hewan dengan bicephaly tidak otomatis membuktikan bahwa lingkungan setempat sedang tercemar atau mengalami gangguan tertentu. Hubungan antara kelainan perkembangan dan faktor lingkungan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Termasuk Spesies Terancam
Kasus tersebut menjadi semakin penting karena diamondback terrapin merupakan penghuni rawa payau dan estuari di sepanjang pesisir Atlantik dan Teluk Meksiko Amerika Serikat.
Di Massachusetts, spesies ini berstatus terancam (threatened) berdasarkan Massachusetts Endangered Species Act, sementara status konservasinya pada tingkat federal masih dalam proses peninjauan. Habitat rawa payau juga membuat spesies ini rentan terhadap perubahan kondisi pesisir, sehingga pemantauan lokasi peneluran menjadi penting.
Anak penyu dengan dua kepala tersebut kini masih berada di bawah pengawasan dokter hewan. Ketika ukurannya sudah lebih besar, tim berencana menggunakan CT scan dan X-ray untuk melihat bagaimana struktur tubuh dan organ internalnya tersusun.
Belum diketahui apakah penyu tersebut nantinya dapat dilepasliarkan. Jika kondisinya cukup sehat untuk bertahan hidup sendiri, kemungkinan itu masih terbuka. Namun, jika kelainan anatominya membuatnya sulit bertahan di alam, ia mungkin harus tetap berada dalam perawatan manusia.
Untuk saat ini, keberadaan penyu dua kepala tersebut memberi kesempatan langka bagi ilmuwan untuk melihat langsung bagaimana satu embrio dapat berkembang menjadi dua kepala yang berbagi satu tubuh, sekaligus mempelajari batas kemampuan tubuh hewan dalam menghadapi kelainan perkembangan.
(rns/fay)